Sepuluh tahun lalu, tiga lagu dari agensi kecil masuk 20 besar.

CEO sebuah agensi menengah mengungkapkan, biaya produksi album kini minimal 5 miliar won.

Hal ini membuat agensi kecil sulit bersaing, dan banyak grup bubar sebelum kontrak tujuh tahun berakhir.

“Dongeng Cinderella ala BTS yang tinggal serumah dan berbagi satu kamar mandi sudah tidak mungkin terjadi sekarang,” ujar seorang sumber.

Kini, kerja keras saja tidak cukup untuk menjadi idola K-pop.

Generasi Muda Berbondong-bondong ke Trot

Akademi musik pun merasakan perubahan. Lee Ho-seop, komposer trot senior, mengatakan lima tahun lalu tidak ada remaja yang mau belajar trot.

Sekarang, remaja menjadi mayoritas muridnya.

“Anak-anak sekarang bangga belajar trot, tanpa ragu,” kata Lee. Trot dianggap menawarkan lebih banyak kesempatan dan persaingan yang lebih sehat.

Fenomena ini juga terlihat di panggung internasional. Saat BigBang tampil di Coachella, sorakan terkeras justru untuk lagu trot Daesung, “Look at Me, Gwisun.”

Peneliti Kim Sung-yoon dari Dong-A University menyebut trot sebagai “alat ajaib yang memutar balik waktu.” Ia menilai tren ini sebagai reaksi terhadap kelelahan akibat persaingan dan stimulasi berlebihan.

Fenomena serupa terjadi di AS, di mana musik country yang dulu dianggap kuno kini populer kembali di kalangan muda.

>>> Toei Animation Tayangkan One Piece Arc Elbaph dengan Format Musiman

Trot dan country sama-sama menawarkan kestabilan dan keakraban.