"Saya mendatangi cukup banyak akademi antara usia 11 dan 15. Arsenal, Tottenham, Chelsea, Fulham, Millwall.

Crystal Palace adalah uji coba terakhir saya di usia 15," kata Semenyo dalam wawancara eksklusif bersama FIFA.

Semenyo memutuskan berhenti bermain bola selama satu tahun setelah gagal mendapatkan kontrak di Crystal Palace demi memfokuskan diri pada pendidikannya.

"Saya ke sana selama dua bulan, tidak diterima, dan sangat frustrasi karena tidak ditandatangani tim mana pun. Saya akhirnya menyerah dan fokus ke sekolah.

Saya menyerah selama setahun, menikmati menjadi normal," ujar Semenyo.

Mantan pelatih Leeds United, Dave Hockaday, kemudian membujuk Semenyo untuk kembali bermain hingga akhirnya dipinang Bristol City pada tahun 2017.

Sebelum menembus tim utama, ia sempat dipinjamkan ke Bath City, Newport County, dan Sunderland AFC untuk mendapatkan waktu bermain.

Semenyo mulai menarik perhatian timnas Ghana setelah mencatatkan 20 kontribusi gol dalam 32 pertandingan di Championship sebelum akhirnya dipanggil pada Mei 2022.

Keputusan Membela Ghana

Meskipun tumbuh besar di Inggris, keputusan untuk membela tanah kelahiran orang tuanya diakui Semenyo sebagai pilihan yang mudah dan didukung penuh keluarganya.

"Ibu dan ayah saya orang Ghana sejati. Mereka tidak pernah benar-benar menyebut tentang Inggris," tutur Semenyo.

Semenyo menambahkan bahwa atmosfer menonton pertandingan timnas Ghana di Piala Dunia bersama keluarga besarnya selalu berjalan sangat emosional dan spesial.

"Tentu, tinggal di Inggris, Anda mendapat pembicaraan: 'Oh, Anda harus membela Inggris'. Tapi itu bukan pembicaraan yang pernah saya lakukan, sungguh.

Ghana datang saat saya berusia 19, 20, jadi saya tidak akan pernah menolaknya," ucap Semenyo.

Penyerang sayap ini sempat merasakan atmosfer Piala Dunia 2022 di Qatar selama 19 menit sebagai pemain pengganti sebelum Ghana gugur di fase grup.