Komponen busi pada kendaraan roda dua maupun roda empat kerap diabaikan pemiliknya. Padahal, peranti kecil ini sangat erat kaitannya dengan performa mesin.

Fungsi utama busi adalah memercikkan api untuk proses pembakaran campuran udara dan bahan bakar. Proses itu menghasilkan daya dorong bagi pergerakan mesin.

>>> Pemerintah Siapkan Skema Pengelolaan Baterai Bekas Kendaraan Listrik

Jika busi tidak optimal, dampaknya langsung terasa pada performa kendaraan. Pemilik biasanya merasakan tarikan mesin lebih berat dan konsumsi bahan bakar lebih boros.

Pemilik kendaraan disarankan memeriksa kondisi busi secara berkala. Penting juga dipahami bahwa busi memiliki batas masa pakai.

Durasi pemakaian busi tidak hanya bergantung pada jarak tempuh atau waktu. Ada faktor eksternal yang memengaruhi usia pakainya.

Faktor yang Memengaruhi Usia Pakai Busi

Technical Support PT Niterra Mobility Indonesia, Diko Oktaviano, menjelaskan usia pakai busi dipengaruhi beberapa hal. Pertama, perawatan ruang bakar yang kotor membuat busi cepat mati.

>>> FIA Revisi Aturan F1 Tengah Musim Usai Dikritik Pembalap Top

Kedua, cara berkendara agresif dan sering ngebut membuat busi kerja ekstra. Kondisi itu bisa menyebabkan overheat atau elektroda cepat aus, khususnya busi nikel.

Ruang bakar kotor umumnya akibat kelalaian perawatan rutin. Faktor lain adalah penggunaan bahan bakar tidak sesuai spesifikasi rasio kompresi mesin.

Kebiasaan mengemudi kecepatan rendah terus-menerus juga berdampak buruk. Kondisi itu memicu carbon fouling atau penumpukan sisa karbon pada busi.

Diko menambahkan, batas efektif masa pakai busi berbeda-beda tergantung tipe komponen dan jenis kendaraan. Untuk motor, usia pakai efektif busi konvensional atau nikel sekitar 6.000-10.000 km.

>>> Empat Provinsi Masih Berlakukan Pemutihan Pajak Kendaraan 2026

Sementara untuk mobil dengan busi nikel, usia pakai efektif sekitar 20.000 km. Busi iridium bisa lebih awet dari itu.