Pengacara OpenAI, William Savitt, mengatakan bahwa gugatan Musk sama sekali tidak sesuai kenyataan. "Kami senang juri mencapai hasil yang tepat, dan mencapainya dengan cepat," ujarnya.

Analisis Hukum

Carl Tobias, profesor hukum dari University of Richmond School of Law, menilai juri membuat keputusan yang sangat berdasarkan fakta.

"Kasus ini terasa agak aneh dan gila, tetapi inilah mengapa kita memercayai juri, karena mereka membawa akal sehat komunitas untuk menyelesaikan sengketa faktual," kata Tobias.

Menurut Tobias, peluang Musk untuk menang di tingkat banding sangat kecil.

"Pengadilan banding sangat kecil kemungkinannya untuk membatalkan keputusan yang sangat spesifik terhadap fakta dari juri, dan hakim yang menyetujuinya," jelasnya.

Dengan demikian, penyelesaian kasus ini bisa berlarut-larut, namun prospek Musk untuk memenangkan gugatan tampak tipis.

Pada hari pertama persidangan, Musk duduk di kursi saksi dan ditanya tentang tujuan tindakan hukum tersebut. "Sebenarnya sangat sederhana.

Mencuri dari badan amal itu tidak dibenarkan. Jika menjarah badan amal diizinkan, seluruh fondasi pemberian amal akan hancur," kata Musk.

Sementara itu, Altman mengatakan kepada juri bahwa Musk tidak hanya mendukung gagasan OpenAI menjadi bisnis pencari laba, tetapi juga bersaing mengendalikannya dalam jangka panjang.

>>> Mantan Bos Samsung Prediksi Harga RAM DDR5 Segera Turun Drastis

Keduanya memulai OpenAI pada 2015, namun Musk hengkang pada 2018 setelah rekan pendiri lain menolak keinginannya untuk memegang kendali.