Temuan menarik lainnya menunjukkan bahwa ibu cenderung lebih berhati-hati dibanding ayah. Naluri protektif ibu di dunia nyata terbawa ke ruang digital.

Wakil Direktur Academy of Learning and Teaching SIT, Jiow Hee Jhee, mengatakan banyak orang tua belum menyadari dampak jangka panjang unggahan sederhana.

Unggahan tersebut dapat meninggalkan jejak digital bagi anak-anak mereka.

“Berbagi momen keluarga secara daring memang menciptakan koneksi, tetapi juga mengekspos anak pada risiko seperti profiling dan penyalahgunaan informasi pribadi,” jelasnya.

Menurutnya, perlindungan jejak digital anak dimulai dari keputusan kecil sehari-hari.

Langkah Pencegahan Risiko Sharenting

Para ahli menyarankan orang tua lebih selektif sebelum mengunggah informasi tentang anak. Beberapa langkah yang disarankan antara lain mengatur akun media sosial menjadi privat.

Orang tua juga disarankan menghapus metadata dan lokasi pada foto. Membatasi informasi pribadi anak yang diunggah juga penting dilakukan.

Selain itu, rutin mengecek pengaturan privasi akun dapat membantu mengurangi risiko. Orang tua diminta menghindari unggahan yang memperlihatkan lokasi rutin anak seperti sekolah, tempat les, atau klub olahraga.

Langkah-langkah tersebut dapat mencegah pihak tidak bertanggung jawab memanfaatkan informasi. Pengawasan aktivitas digital anak dan edukasi keamanan siber di lingkungan keluarga juga menjadi poin krusial.

Penelitian tersebut menyebut naluri protektif ibu di dunia nyata juga terbawa ke ruang digital.

>>> Fakta-fakta Masha and the Bear, Inspirasi hingga Sosok Orang Tua

Para ibu dinilai lebih percaya diri dalam menerapkan langkah-langkah keamanan privasi dan lebih yakin terhadap pentingnya perlindungan data anak.