Meta mulai membuka ekosistem kacamata pintar Ray-Ban Display untuk aplikasi dan game buatan pengembang pihak ketiga.

Langkah ini diambil agar perangkat wearable berbasis kecerdasan buatan (AI) tersebut memiliki variasi fungsi yang lebih kaya.

>>> Juri California Tolak Gugatan Elon Musk Terhadap OpenAI

Perangkat wearable premium ini dibanderol sekitar 800 dollar AS atau setara Rp 13 juta (kurs Rp 16.300 per dollar AS).

Kacamata pintar ini dilengkapi layar terintegrasi dan dukungan AI bawaan sejak awal diperkenalkan.

Aplikasi pengguna saat ini dinilai masih terbatas karena bergantung pada layanan Meta AI. Meskipun demikian, Meta telah menyuntikkan pembaruan berupa fitur teleprompter bawaan dan handwriting virtual.

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, Meta kini memberikan ruang bagi developer untuk berkreasi membuat aplikasi khusus lewat basis mobile maupun web app.

Pengembang dapat menghadirkan elemen visual seperti teks, gambar, tombol, daftar, hingga tayangan video pada layar kacamata.

Hal ini dimungkinkan melalui piranti khusus bernama Meta Wearables Device Access Toolkit.

Fleksibilitas ini mempermudah kreator dari ekosistem iOS, Android, maupun web untuk mengadaptasi program mereka ke perangkat wearable Meta.

Proses perancangan aplikasi berbasis web memanfaatkan teknologi umum yang familier di kalangan developer, yaitu HTML, CSS, dan JavaScript.

Meta berambisi mengubah fungsi Ray-Ban Display menjadi platform komputasi wearable yang terbuka, layaknya ekosistem pada ponsel pintar.

Ekspansi Game dan Integrasi Sensor Otot

Langkah ekspansi ini melahirkan potensi baru di sektor hiburan. Meta mulai menyediakan game perdana seperti "GOAT" dan "2048".

>>> Film Hello Kitty Akan Digarap Sutradara Ultraman: Rising dan Moana 2

Sektor ini didukung perangkat tambahan berupa gelang khusus berbasis electromyography (EMG) bernama Meta Neural Band.