Majalah keuangan internasional The Economist menjadi sorotan netizen Indonesia setelah mengkritik keras Presiden Prabowo Subianto.

Pertanyaan tentang siapa pemilik The Economist pun ramai dicari di media sosial dan mesin pencari.

>>> Cara Ambil Foto dan Lokasi Pencuri iPhone Lewat Shortcuts

Dalam laman resmi perusahaan, saham The Economist dimiliki oleh sejumlah investor global dan keluarga konglomerat ternama. Di antaranya adalah keluarga Rothschild, Agnelli, dan Cadbury.

Kritik The Economist terhadap Prabowo

The Economist menerbitkan beberapa artikel yang menyoroti kondisi ekonomi Indonesia. Media tersebut mengkhawatirkan kebijakan dan manuver politik Prabowo.

Akun X The Economist dengan 26 juta pengikut membahas Indonesia dan Prabowo sebanyak sembilan kali dalam periode 15-17 Mei 2026.

Postingan itu viral dan memicu perbincangan hangat di Indonesia.

Dalam salah satu tulisannya, The Economist menyebut Prabowo telah mengubah diri menjadi kakek penyayang kucing, tetapi temperamennya mudah berubah.

Media itu juga menulis bahwa sekutu Prabowo pun khawatir akan demokrasi Indonesia.

The Economist juga mengkhawatirkan kemajuan ekonomi Indonesia akibat manuver Prabowo. Mereka menilai Prabowo memusatkan kekuasaan, meminggirkan oposisi, dan menghabiskan dana melebihi kemampuan negara.

>>> Vivo Siapkan Smartphone S60 dengan Baterai Jumbo 7.200mAh

Menurut The Economist, Prabowo berisiko menjebol batas aman defisit anggaran 3 persen dari PDB. Dana tersebut rencananya digunakan untuk proyek koperasi dan program makan siang gratis.

Media berusia 182 tahun itu juga menyoroti gaya kepemimpinan otoriter Prabowo. Mereka menyebut penempatan penasihat yang antikritik di lingkaran dekat presiden semakin mengisolasi pemerintah dari kenyataan.

The Economist mendesak Prabowo segera mengubah haluan menuju kebijakan yang lebih pragmatis.

Alokasi anggaran sebaiknya difokuskan pada sektor krusial seperti pemenuhan gizi ibu hamil dan balita untuk mencegah stunting.

Sejarah The Economist

The Economist pertama kali didirikan oleh ekonom Skotlandia James Wilson pada September 1843. Awalnya, surat kabar ini bertujuan menggalang dukungan penghapusan Undang-Undang Jagung Inggris.

Saat ini, The Economist berada di bawah naungan The Economist Group. Majalah ini memiliki jutaan pelanggan di Eropa dan Amerika Serikat.

Dalam postingan viralnya, The Economist menyebut Prabowo terlalu otoriter, meminimalkan oposisi, serta mengambil kebijakan ekonomi berbahaya.

>>> Harga iPhone iBox 18 Mei 2026 Naik Imbas Penguatan Dolar AS

Media itu juga menulis bahwa penggantian figur otoritas keuangan yang kredibel dengan sosok yang mengabaikan dinamika ekonomi global semakin mengisolasi pemerintah dari kenyataan.