Revisi UU Hak Cipta Terburu-buru Dinilai Hambat Inovasi dan Edukasi
Wacana revisi Undang-Undang Hak Cipta yang tengah bergulir mendapat sorotan dari kalangan akademisi.
Mereka menilai proses yang terburu-buru justru berpotensi menjadi bumerang bagi ekosistem kreatif dan pendidikan di Indonesia.
>>> Kiki's Delivery Service Diadaptasi Jadi Serial Live Action Pertama Studio Ghibli
Devi Syukri Azhari, akademisi dari Universitas Putra Indonesia (UPI) YPTK Padang, mengingatkan bahwa aturan yang terlalu kaku bisa memicu lonjakan biaya ekonomi.
Mulai dari melambatnya inovasi hingga mahalnya akses materi edukasi di kampus.
Menurut Devi, niat di balik revisi UU Hak Cipta sebenarnya baik.
Namun, hak eksklusif yang terlalu ketat berpotensi membatasi penyebaran dan modifikasi karya, sehingga biaya riset, perangkat lunak, dan materi edukasi menjadi tinggi.
Ruang Fair Use Terancam Sempit
Di era kecerdasan buatan (AI), definisi perlindungan hak cipta masih abu-abu. Devi menilai regulasi yang mengekang akan sangat berdampak pada sektor pendidikan dan penelitian teknologi.
Proses belajar modern sangat bergantung pada akses informasi terbuka, adaptasi karya, dan distribusi konten legal.
>>> Erick Thohir Sambut Positif Penunjukan Todotua Pasaribu sebagai CdM Asian Games 2026
Jika akses jurnal, software, atau materi kuliah dilindungi dengan tarif mahal, pengembangan sumber daya manusia bisa melambat.
“Apabila ruang penggunaan yang wajar atau fair use menjadi terlalu terbatas, biaya produksi konten dan pengembangan produk digital dapat meningkat secara signifikan,” ujar Devi.
Beban biaya lisensi itu pada akhirnya akan dibebankan ke mahasiswa dan konsumen layanan digital.
Aturan yang rumit juga hanya akan menguntungkan perusahaan besar yang kuat secara finansial dan hukum. Sementara itu, inovator muda di level startup kampus akan semakin sulit bersaing.
Sebagai solusi, Devi mendorong edukasi yang merata dianggap lebih krusial daripada sekadar mempertebal sanksi dan aturan.
Ia berharap revisi UU Hak Cipta dilakukan melalui konsultasi publik yang menyeluruh dan tidak terburu-buru.
>>> Kemensos Salurkan BPNT Juni 2026 Rp600 Ribu, Cek via HP Sekarang
“Diperlukan strategi komprehensif yang tidak hanya menekankan aspek regulasi, tetapi juga memperkuat pendidikan masyarakat, kolaborasi antar pemangku kepentingan, serta penerapan teknologi modern untuk mendukung efektivitas perlindungan hak cipta,” tutup Devi.
Update Terbaru
Chicharito Sebut Messi Superman, Ronaldo Batman
Senin / 06-07-2026, 16:13 WIB
Julian Quinones Bersinar di Piala Dunia 2026, Ferretti Beri Pujian
Senin / 06-07-2026, 16:13 WIB
Julián Quiñones Buka Keunggulan Meksiko atas Afrika Selatan di Piala Dunia
Senin / 06-07-2026, 16:08 WIB
Update Kode No Scope Arcade Roblox Juli 2026, Klaim Hadiah Gratis
Senin / 06-07-2026, 16:08 WIB
Kode Driving Empire Roblox Juli 2026 Terbaru, Dapatkan Cash dan Mobil Gratis
Senin / 06-07-2026, 16:08 WIB
Buruh Respons Kabar PHK Massal Karyawan Tokopedia
Senin / 06-07-2026, 16:07 WIB
Perkuat Hilirisasi, Kemenperin Kembangkan Sentra IKM di Manggarai
Senin / 06-07-2026, 16:07 WIB
Bupati Gowa: ASN Tak Nyaman Akibat Hak Angket DPRD
Senin / 06-07-2026, 16:07 WIB
Kapal Dilarang Berlayar di Radius 5 Km dari Kawah Gunung Anak Krakatau
Senin / 06-07-2026, 16:07 WIB
David dan Victoria Beckham Rayakan Anniversary di Tengah Keretakan dengan Brooklyn
Senin / 06-07-2026, 16:03 WIB
Tuchel Puji Mentalitas Inggris Usai 10 Pemain Kalahkan Meksiko
Senin / 06-07-2026, 16:03 WIB
9 Ciri-Ciri Orang Bermental Tangguh, Apakah Kamu Termasuk?
Senin / 06-07-2026, 16:03 WIB
Rasio Valuasi S&P 500 Capai Level Tertinggi, Peringatkan Potensi Penurunan Pasar
Senin / 06-07-2026, 16:01 WIB
Love Island USA: Corbin dan Parmida Tersingkir Usai Voting Publik
Senin / 06-07-2026, 16:00 WIB







