Pernyataan “cukup saya WNI, anak jangan” yang diunggah seorang alumni penerima beasiswa LPDP berinisial DS menjadi sorotan publik. Video tersebut memperlihatkan dirinya membuka paket berisi surat dari Home Office Inggris yang menyatakan anak keduanya resmi memperoleh kewarganegaraan Inggris beserta paspornya.

Dalam video itu, DS menyebut dokumen tersebut akan mengubah masa depan anak-anaknya. Ia kemudian menyampaikan pernyataan yang memicu perdebatan di media sosial terkait pilihan kewarganegaraan bagi anak.

Unggahan yang Memantik Reaksi

DS menunjukkan surat resmi dari otoritas Inggris yang menyatakan anaknya diterima sebagai warga negara Inggris. “Ini adalah surat dari Home Office Inggris yang menyatakan kalau anak aku yang kedua sudah diterima jadi WN Inggris,” ujarnya dalam video tersebut.

Pernyataan lanjutan yang menyebut keinginannya agar anak-anak memiliki paspor asing memicu beragam respons warganet, mulai dari dukungan hingga kritik tajam.

Psikiater Singgung Haus Validasi

Psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ, menilai fenomena ini dapat dilihat dari dinamika psikologis di balik kebiasaan membagikan hal pribadi di ruang digital. Menurutnya, salah satu faktor yang kerap muncul adalah kebutuhan akan validasi sosial.

Ia menjelaskan bahwa otak manusia secara biologis merespons interaksi sosial. Respons berupa tanda suka, komentar, dan bagikan di media sosial dapat memicu pelepasan dopamin yang menimbulkan rasa senang sementara.

“Otak manusia mendapat dopamin dari respons sosial seperti like, komentar, dan share. Ini membuat individu terdorong membagikan hal-hal yang sifatnya pribadi,” kata dr Lahargo.

Media Sosial sebagai Ruang Ekspresi Identitas

Selain validasi, media sosial juga kerap digunakan untuk menunjukkan identitas diri, nilai, maupun cara pandang terhadap dunia. Dalam konteks isu kewarganegaraan dan masa depan anak, unggahan dapat menjadi simbol aspirasi, kecemasan, hingga proyeksi harapan pribadi.