Ia juga menyoroti bahwa sebagian orang menjadikan media sosial sebagai sarana regulasi emosi. Aktivitas yang dulu dilakukan melalui catatan pribadi kini berpindah ke ruang publik dengan harapan mendapat pemahaman dari orang lain.

“Sebagian orang menulis di medsos untuk menenangkan diri, seperti menulis jurnal, tapi ini dilakukan di ruang publik. Kadang yang diposting bukan hanya tentang hidupnya, tapi kebutuhan untuk merasa dipahami,” ujarnya.

Perlu Pertimbangan Jangka Panjang

Meski media sosial dapat menjadi ruang ekspresi, dr Lahargo mengingatkan bahwa platform digital bukan tempat pemulihan psikologis. Ia menyarankan setiap orang mempertimbangkan dampak jangka panjang sebelum mengunggah konten sensitif.

Salah satu cara sederhana adalah membayangkan apakah unggahan tersebut masih terasa nyaman dilihat lima tahun mendatang. Pertimbangan ini dinilai penting agar setiap konten yang dibagikan tetap bijak dan tidak menimbulkan penyesalan di kemudian hari.