Kerak Telor Go Internasional! Inilah Tiga Kuliner Khas Betawi yang Diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia – Pernah Coba Semuanya?
3. Kerak Telor: Legenda Kuliner Betawi Sejak Zaman Kolonial
Tak lengkap rasanya membahas kuliner Betawi tanpa menyebut kerak telor. Makanan legendaris ini berasal dari kawasan Menteng pada masa penjajahan VOC Belanda, dan dipercaya terinspirasi dari omelette Eropa yang kemudian diadaptasi dengan bahan-bahan lokal.
Kerak telor terbuat dari campuran beras ketan putih, telur ayam atau bebek, ebi kering, kelapa sangrai, dan bumbu khas seperti kencur, jahe, dan merica. Adonan tersebut dimasak langsung di atas arang hingga membentuk lapisan kerak yang renyah di bagian bawah, sementara bagian atasnya tetap lembut dan gurih.
Telur bebek memberikan rasa yang lebih kuat dan kaya, sementara telur ayam menghasilkan tekstur yang lebih lembut—pilihan tergantung selera dan tradisi keluarga. Hingga kini, kerak telor kerap menjadi bintang dalam berbagai acara budaya Betawi, seperti Lebaran Betawi, festival kuliner, hingga acara keluarga.
Keberadaan kerak telor tidak hanya menjadi kebanggaan kuliner, tetapi juga bukti bahwa budaya Betawi mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya. Dari dapur kampung hingga panggung nasional, kerak telor terus menjadi simbol kebanggaan Jakarta.
Melestarikan Kuliner Betawi, Menjaga Identitas Jakarta
Pengakuan tiga kuliner Betawi—roti buaya, gabus pucung, dan kerak telor—sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia bukan sekadar penghargaan simbolis. Ini adalah ajakan untuk masyarakat, terutama generasi muda, agar tidak melupakan akar budaya mereka di tengah arus modernisasi yang kian deras.
Dengan mencicipi, membagikan, atau bahkan mempelajari cara membuatnya, setiap orang turut berkontribusi dalam pelestarian budaya. Apalagi di era digital, konten kuliner Betawi bisa menjadi viral di media sosial, membangkitkan minat wisatawan lokal maupun mancanegara untuk menjelajahi Jakarta melalui lidahnya.
Jadi, sudah pernah coba ketiganya? Jika belum, jangan ragu untuk menyambangi pasar tradisional, festival budaya Betawi, atau warung-warung legendaris di Jakarta. Karena di balik setiap suapan, ada cerita panjang tentang sejarah, nilai, dan identitas yang layak dijaga—bukan hanya untuk hari ini, tapi juga untuk generasi mendatang.
Update Terbaru
3 HP Oppo dengan Fitur Live Photo untuk Konten Media Sosial, Mulai Rp3 Jutaan
Rabu / 17-06-2026, 16:30 WIB
Roblox Luncurkan Akun Kids dan Select dengan Sistem Keamanan Berbasis Usia
Rabu / 17-06-2026, 16:30 WIB
Pearl Abyss Rilis Crimson Desert sebagai Game Action RPG Naratif Independen
Rabu / 17-06-2026, 16:30 WIB
Tips Menata Tempat Tidur di Dekat Kamar Mandi agar Tetap Sehat
Rabu / 17-06-2026, 16:29 WIB
BenQ Buka Toko Monitor Eksklusif Pertama di India, Berlokasi di Mumbai
Rabu / 17-06-2026, 16:29 WIB
Program BSPS: Lebih dari Sekadar Bedah Rumah, Ini Dampak Ekonominya
Rabu / 17-06-2026, 16:29 WIB
Nasaruddin Umar Dinilai Layak Masuk Bursa Calon Ketua Umum PBNU
Rabu / 17-06-2026, 16:28 WIB
IFG Life Bayar Klaim Asuransi Kredit Rp394,2 Juta di Sulawesi Selatan
Rabu / 17-06-2026, 16:28 WIB
Masalah Visa Selesai, Mehdi Torabi Siap Perkuat Timnas Iran Hadapi Belgia
Rabu / 17-06-2026, 16:25 WIB
Bioskop Trans TV Malam Ini Tayangkan Film Thriller Follow Me
Rabu / 17-06-2026, 16:25 WIB
Aryasatya Wishnutama Perkenalkan The Indelberg Way untuk Bangun SDM Unggul
Rabu / 17-06-2026, 16:25 WIB
Aktivitas Sesar Sausu Picu Gempa M 6,7 di Sulawesi Tengah, Diikuti 466 Gempa Susulan
Rabu / 17-06-2026, 16:24 WIB
Asal Usul Nama Dusun Pentil di Rembang Ternyata Bukan Bermakna Saru
Rabu / 17-06-2026, 16:24 WIB
Ford Beri Sinyal Resmi untuk Pickup Listrik Rp480 Jutaan
Rabu / 17-06-2026, 16:21 WIB






