Kerak Telor Go Internasional! Inilah Tiga Kuliner Khas Betawi yang Diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia – Pernah Coba Semuanya?

Kerak Telor Go Internasional! Inilah Tiga Kuliner Khas Betawi yang Diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia – Pernah Coba Semuanya?

makanan-pixabay-

Kerak Telor Go Internasional! Inilah Tiga Kuliner Khas Betawi yang Diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia – Pernah Coba Semuanya?

Jakarta, ibu kota Indonesia yang dikenal sebagai pusat ekonomi, politik, dan budaya, menyimpan kekayaan kuliner yang tak kalah menarik dari kehidupan modernnya. Di balik gemerlap gedung pencakar langit dan hiruk-pikuk lalu lintasnya, tersimpan warisan budaya takbenda yang hidup dan terus dilestarikan melalui santapan tradisional Betawi. Ya, kuliner Betawi bukan hanya soal rasa, tetapi juga cerminan sejarah, nilai sosial, serta identitas budaya masyarakat asli Jakarta.



Menurut UNESCO, warisan budaya takbenda (Intangible Cultural Heritage) mencakup praktik, ekspresi, pengetahuan, dan keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi, serta terus berkembang seiring perubahan zaman. Dalam konteks Indonesia, pengakuan terhadap warisan kuliner bukan sekadar apresiasi rasa, melainkan upaya melestarikan identitas lokal yang kian terancam oleh arus globalisasi.

Betawi, sebagai etnis asli Jakarta, memiliki sejumlah kuliner yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda. Dari sekian banyak hidangan khas, tiga di antaranya menonjol karena nilai filosofis, keunikan rasa, dan keterkaitannya dengan adat istiadat masyarakat Betawi. Penasaran? Simak ulasannya berikut ini.

1. Roti Buaya: Simbol Kesetiaan dalam Setiap Gigitan
Salah satu kuliner Betawi yang paling ikonik bukan karena rasanya—melainkan makna budayanya—adalah roti buaya. Roti berbentuk buaya ini kerap muncul dalam prosesi pernikahan dan pertunangan adat Betawi sebagai hantaran wajib dari pihak calon mempelai laki-laki kepada keluarga perempuan.


Kenapa buaya? Dalam kepercayaan masyarakat Betawi, buaya adalah hewan yang setia pada pasangannya seumur hidup. Dari sanalah filosofi kesetiaan dan komitmen dalam pernikahan diwujudkan melalui roti ini. Meskipun terdengar sederhana, proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan. Roti ini terbuat dari adonan tepung terigu yang dipanggang hingga berwarna kecokelatan, dengan tekstur renyah di luar namun empuk di dalam.

Kini, roti buaya hadir dalam berbagai variasi—ada yang diberi isian cokelat, keju, atau bahkan meses—namun makna simbolisnya tetap terjaga. Keberadaan roti buaya mengingatkan kita bahwa kuliner Betawi bukan hanya soal mengenyangkan perut, tetapi juga menyampaikan pesan moral dan mempererat ikatan sosial antar keluarga.

2. Gabus Pucung: Warisan Rasa dari Sungai Ciliwung
Jika Anda ingin merasakan kearifan lokal Betawi yang menyatu dengan alam, gabus pucung adalah jawabannya. Hidangan ini terbuat dari ikan gabus—yang dulu mudah ditemukan di rawa-rawa dan sungai Jakarta, terutama di sekitar Ciliwung—yang dimasak dalam kuah hitam pekat berbahan dasar pucung atau kluwek.

Kluwek, biji dari pohon Pangium edule, memberikan warna hitam alami serta rasa unik yang memadukan gurih, sedikit pahit, dan manis. Gabus pucung biasanya disajikan hangat bersama nasi putih, lalapan segar, dan sambal terasi yang pedas menggugah selera.

Dahulu, ikan gabus menjadi sumber protein utama masyarakat Betawi yang tinggal di pinggiran sungai dan rawa. Kini, keberadaannya semakin langka, sehingga makanan ini juga menjadi simbol pentingnya pelestarian ekosistem lokal. Gabus pucung bukan hanya hidangan, tetapi juga jejak sejarah lingkungan Jakarta yang pernah penuh dengan rawa dan kehidupan akuatik.

Baca juga: Profil Biodata Park Bo Gum Aktor Korea yang Digosipkan Sebagai Penyuka Sesama Jenis Karena Cara Jalannya yang Slay, Lengkap: Umur, Agama dan Akun IG

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya