Viral di Medsos, Tayangan Xpose Trans7 Tuai Kecaman: Diduga Hina Kiai Pesantren, Warganet Serukan #BoikotTrans7
Viral di Medsos, Tayangan Xpose Trans7 Tuai Kecaman: Diduga Hina Kiai Pesantren, Warganet Serukan #BoikotTrans7
Gelombang protes terhadap tayangan Xpose di stasiun televisi Trans7 kini tengah menjadi sorotan nasional. Program infotainment yang biasanya mengulas berbagai isu populer justru menuai kontroversi besar setelah dianggap melecehkan para kiai dan lembaga pesantren. Aksi kecaman pun mengalir deras di berbagai platform media sosial, dengan tagar #BoikotTrans7 sempat menduduki daftar trending di Twitter dan Instagram.
Kontroversi ini bermula dari sebuah cuplikan tayangan Xpose yang memperlihatkan momen santri menyalami seorang kiai yang sedang duduk. Dalam narasi suara latar, disebutkan bahwa santri “rela ngesot” hanya untuk memberikan amplop kepada sang kiai. Bahkan, narator menambahkan komentar sarkastik: “Seharusnya yang kasih amplop itu kiai, bukan santri.”
Kalimat tersebut langsung memicu kemarahan luas, terutama dari kalangan santri, alumni pesantren, dan tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Banyak netizen menilai bahwa tayangan tersebut tidak hanya tidak akurat, tetapi juga mengandung unsur penghinaan terhadap figur kiai yang selama ini dihormati sebagai panutan spiritual dan moral masyarakat.
PKB Angkat Suara: Ini Bukan Sekadar Kesalahan Redaksi
Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Maman Imanulhaq, tidak tinggal diam melihat perkembangan isu ini. Ia secara tegas mengecam isi tayangan Xpose dan menyebutnya sebagai bentuk ketidaksensitifan media terhadap nilai-nilai kepesantrenan yang telah mengakar kuat di masyarakat Indonesia.
“Narasi yang ditampilkan sangat tidak pantas. Seolah-olah para kiai itu hidup mewah, meminta-minta uang dari santri, dan memanfaatkan pesantren untuk kepentingan pribadi,” ujar Maman dalam keterangannya, Rabu (10/4/2024).
Menurut politisi asal Majalengka ini, framing seperti itu bukan hanya keliru secara faktual, tetapi juga melukai perasaan jutaan warga pesantren yang selama ini menjunjung tinggi nilai-nilai kesederhanaan, keikhlasan, dan pengabdian tanpa pamrih.
“Kiai itu bukan sekadar guru agama, tapi pilar moral dan spiritual bangsa. Mereka adalah garda terdepan dalam menjaga akhlak, ketahanan sosial, dan keutuhan bangsa,” tegasnya.
Media Harus Jadi Perekat Sosial, Bukan Pemicu Perpecahan
Maman menekankan bahwa kebebasan pers dan kebebasan berekspresi tidak berarti bebas menghina atau merendahkan tokoh agama. Ia mengingatkan bahwa media massa memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga etika penyiaran, terutama saat menyentuh isu-isu sensitif seperti agama dan kepercayaan.
“Media seharusnya menjadi sarana pendidikan publik dan perekat sosial di tengah keberagaman bangsa, bukan malah memicu perpecahan atau menimbulkan luka di masyarakat,” ungkapnya.
Ia pun mendesak Trans7 untuk segera mengambil langkah konkret, termasuk menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat, khususnya warga pesantren dan keluarga besar Nahdlatul Ulama. Selain itu, Maman meminta stasiun televisi tersebut melakukan evaluasi internal menyeluruh terhadap tim produksi dan redaksi yang bertanggung jawab atas tayangan kontroversial tersebut.
Dari Viral ke Gerakan Massal: Santri dan NU Bergerak
Respons publik terhadap tayangan Xpose tidak hanya berhenti di media sosial. Berbagai ormas Islam, terutama yang berafiliasi dengan NU, mulai menggalang aksi solidaritas. Sejumlah pondok pesantren mengimbau santri dan alumni untuk tidak menonton Trans7 hingga permintaan maaf resmi dikeluarkan.
Di beberapa daerah, poster bertuliskan “Boikot Trans7” mulai bermunculan di lingkungan pesantren. Bahkan, sejumlah tokoh muda NU menginisiasi kampanye digital bertajuk “Hormati Kiai, Jaga Martabat Pesantren” yang juga viral di TikTok dan Instagram.
“Ini bukan soal sensitivitas berlebihan. Ini soal harga diri, martabat, dan penghormatan terhadap para ulama yang telah berjasa besar bagi bangsa,” kata seorang aktivis muda NU dari Jawa Timur.
Update Terbaru
Android 17 Akhirnya Memperbaiki Fitur Multitasking yang Selama Ini Dibenci
Jumat / 26-06-2026, 18:01 WIB
Fitur Chrome Ini Membantu Saya Berhenti Menumpuk Puluhan Tab
Jumat / 26-06-2026, 18:01 WIB
Cara Mudah Dapat Saldo DANA Gratis 2026 dengan Nonton Drama
Jumat / 26-06-2026, 18:00 WIB
Cara Cek Status Pencairan Bansos PKH Tahap 2 Tahun 2026 yang Lancar dan Aman
Jumat / 26-06-2026, 18:00 WIB
Kedok Game Keluarga! Disney Timezone di Jakarta Ternyata Sarang Judi Beromzet Rp2,1 Miliar Sebulan
Jumat / 26-06-2026, 17:56 WIB
Analis Ungkap Alasan Jokowi Pilih Lampung untuk Safari Politik Bersama PSI
Jumat / 26-06-2026, 17:56 WIB
Bukan Diet Ketat yang Menyiksa, Ini Prinsip Dasar Intuitive Eating
Jumat / 26-06-2026, 17:42 WIB
Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.922 per Dolar AS Jumat Sore
Jumat / 26-06-2026, 17:42 WIB
Pakistan Tegaskan Tak Akan Akui Israel Sebelum Palestina Merdeka
Jumat / 26-06-2026, 17:42 WIB
BPS Jelaskan Alasan Pertanyaan Sensus Ekonomi 2026 Lebih Rinci
Jumat / 26-06-2026, 17:42 WIB
IHSG Terkapar ke 5.896 Sore Ini, 562 Saham Terbakar
Jumat / 26-06-2026, 17:42 WIB
Jadwal Siaran Langsung Uruguay vs Spanyol di Piala Dunia 2026
Jumat / 26-06-2026, 17:42 WIB
Mensesneg: Rencana Pabrik Komponen Otomotif Pindah ke Vietnam Ditunda
Jumat / 26-06-2026, 17:41 WIB
Hasil FP1 MotoGP Belanda: Bezzecchi Tercepat, Marquez Kecelakaan
Jumat / 26-06-2026, 17:41 WIB






