Kolam Renang KONI Sario Manado: 25 Tahun Tak Pernah Dikuras, Atlet Masih Berenang di Air Hijau Keruh!
Kolam Renang KONI Sario Manado: 25 Tahun Tak Pernah Dikuras, Atlet Masih Berenang di Air Hijau Keruh!
Sebuah kolam renang yang seharusnya menjadi sarana latihan elite bagi para atlet justru menjadi sorotan publik karena kondisinya yang memprihatinkan. Kolam renang milik Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) di kawasan Sario, Manado, Sulawesi Utara, diketahui tidak pernah dikuras sejak tahun 1999—alias sudah 25 tahun tanpa pergantian air total. Fakta mengejutkan ini viral di media sosial dan memicu kekhawatiran luas, terutama karena para atlet masih aktif berlatih di sana.
Air Hijau, Bau Tak Sedap, tapi Masih Dipakai Latihan
Dari foto-foto yang beredar, tampak jelas bahwa air kolam tersebut berwarna hijau pekat, keruh, dan dipenuhi lumut. Meski demikian, tidak ada larangan resmi bagi atlet untuk berenang di sana. Bahkan, menurut pengakuan seorang pengurus kolam yang enggan disebut namanya, air kolam hanya ditambahkan saat volume berkurang, baik melalui pengisian manual maupun secara alami dari air hujan.
“Kalau airnya surut, kami tambah. Tapi tidak pernah dikuras total sejak 1999,” ujarnya singkat, seolah hal itu adalah hal biasa.
Pernyataan ini sontak memicu reaksi keras dari warganet, pakar kesehatan, hingga kalangan olahraga. Bagaimana mungkin fasilitas yang seharusnya mendukung prestasi atlet justru menjadi ancaman bagi kesehatan mereka?
Bahaya Tersembunyi di Balik Air Kolam yang Tak Pernah Diganti
Menurut Andi Pool Construction, perusahaan kontraktor kolam renang ternama, tidak mengganti air kolam selama puluhan tahun bukan hanya soal estetika—tapi ancaman serius terhadap kesehatan dan keberlanjutan infrastruktur. Dalam rilis yang diterbitkan pada 11 Oktober 2025, mereka memaparkan sejumlah dampak negatif yang bisa terjadi akibat praktik ini.
1. Sarang Bakteri, Virus, dan Parasit
Air kolam yang stagnan selama bertahun-tahun menjadi tempat ideal bagi mikroorganisme berbahaya untuk berkembang biak. Meski klorin atau bahan kimia lain rutin ditambahkan, efektivitasnya akan menurun drastis jika air tidak pernah diganti. Debu, daun kering, keringat, minyak tubuh, bahkan urine perenang—semua itu menumpuk dan menciptakan “koktail racun” biologis.
Akibatnya? Iritasi kulit, mata merah, infeksi saluran pernapasan, hingga penyakit kulit seperti folikulitis atau “ruam perenang” bisa muncul. Dalam kasus ekstrem, bakteri seperti Pseudomonas aeruginosa atau E. coli bahkan bisa menyebabkan infeksi serius yang memerlukan penanganan medis.
2. Sistem Filtrasi Kolaps
Kolam renang modern dilengkapi sistem filtrasi untuk menyaring kotoran dan menjaga kejernihan air. Namun, sistem ini tidak dirancang untuk bekerja tanpa batas. Jika air tidak pernah diganti, partikel halus dan senyawa organik akan menumpuk, menyumbat filter, dan memaksa pompa bekerja ekstra keras.
Akibatnya? Efisiensi sistem menurun, konsumsi listrik melonjak, dan risiko kerusakan mesin meningkat. Dalam jangka panjang, biaya perawatan justru lebih mahal daripada biaya menguras dan mengganti air secara berkala.
3. Kualitas Air Anjlok, Kenyamanan Hilang
Bayangkan berenang di air yang keruh, berlendir, dan berbau tidak sedap. Tidak hanya mengganggu kenyamanan, kondisi ini juga mengurangi visibilitas di dalam air, yang berpotensi membahayakan keselamatan—terutama saat latihan intensif atau simulasi kompetisi. Atlet tidak bisa fokus pada teknik jika harus khawatir dengan kualitas lingkungan latihannya.
4. Kerusakan Struktural Kolam
Air yang terlalu lama tidak diganti juga mengandung akumulasi bahan kimia sisa, mineral, dan endapan organik. Senyawa-senyawa ini bersifat korosif dan bisa merusak lapisan keramik, nat, hingga struktur beton kolam. Noda membandel, kerak kapur, dan retakan kecil bisa muncul, yang pada akhirnya memerlukan renovasi besar—jauh lebih mahal daripada perawatan preventif.
Pertanyaan Besar: Mengapa Ini Bisa Terjadi?
Fasilitas olahraga seperti kolam renang seharusnya menjadi prioritas, terutama jika digunakan oleh atlet nasional atau calon atlet muda. Namun, kasus KONI Sario Manado mengungkap celah besar dalam pengelolaan aset publik.
Update Terbaru
Android 17 Akhirnya Memperbaiki Fitur Multitasking yang Selama Ini Dibenci
Jumat / 26-06-2026, 18:01 WIB
Fitur Chrome Ini Membantu Saya Berhenti Menumpuk Puluhan Tab
Jumat / 26-06-2026, 18:01 WIB
Cara Mudah Dapat Saldo DANA Gratis 2026 dengan Nonton Drama
Jumat / 26-06-2026, 18:00 WIB
Cara Cek Status Pencairan Bansos PKH Tahap 2 Tahun 2026 yang Lancar dan Aman
Jumat / 26-06-2026, 18:00 WIB
Kedok Game Keluarga! Disney Timezone di Jakarta Ternyata Sarang Judi Beromzet Rp2,1 Miliar Sebulan
Jumat / 26-06-2026, 17:56 WIB
Analis Ungkap Alasan Jokowi Pilih Lampung untuk Safari Politik Bersama PSI
Jumat / 26-06-2026, 17:56 WIB
Bukan Diet Ketat yang Menyiksa, Ini Prinsip Dasar Intuitive Eating
Jumat / 26-06-2026, 17:42 WIB
Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.922 per Dolar AS Jumat Sore
Jumat / 26-06-2026, 17:42 WIB
Pakistan Tegaskan Tak Akan Akui Israel Sebelum Palestina Merdeka
Jumat / 26-06-2026, 17:42 WIB
BPS Jelaskan Alasan Pertanyaan Sensus Ekonomi 2026 Lebih Rinci
Jumat / 26-06-2026, 17:42 WIB
IHSG Terkapar ke 5.896 Sore Ini, 562 Saham Terbakar
Jumat / 26-06-2026, 17:42 WIB
Jadwal Siaran Langsung Uruguay vs Spanyol di Piala Dunia 2026
Jumat / 26-06-2026, 17:42 WIB
Mensesneg: Rencana Pabrik Komponen Otomotif Pindah ke Vietnam Ditunda
Jumat / 26-06-2026, 17:41 WIB
Hasil FP1 MotoGP Belanda: Bezzecchi Tercepat, Marquez Kecelakaan
Jumat / 26-06-2026, 17:41 WIB






