“Indonesia kuat bukan karena memiliki keyakinan yang sama, melainkan karena mampu menghargai dan menghormati perbedaan sebagai dasar hidup bersama,” kata Yusril.

>>> 6 Tampang Pelaku Pengeroyokan Pria yang Dituduh Maling Ayam di Bali Hingga Tewas

Ruang untuk Berkumpul dan Berbagi Cinta Kasih

Hal senada disampaikan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar. Menurutnya, rumah ibadah juga dapat menjadi ruang untuk membangun hubungan antarmanusia.

“Ini bukan hanya sebuah tempat untuk beribadah.

Ini adalah tempat untuk semuanya berkumpul, menyampaikan doa, berbagi cerita, dan memancarkan cinta kasih ke seluruh dunia,” ujarnya.

Perjalanan Panjang Tian Shi Hua Association

Di balik kehadiran Cetiya Tian Shi Hua, terdapat perjalanan panjang Tian Shi Hua Association (TSA) yang bermula dari kegiatan sosial sekitar 18 tahun lalu.

Pendiri TSA, Suhu Karmalie Abeng, mengatakan organisasi tersebut pada awalnya berfokus pada pelayanan sosial sebelum berkembang menjadi lembaga pembinaan spiritual.

“Awalnya kami hanya memberikan pelayanan sosial kepada masyarakat, yang seiring waktu berkembang menjadi pembinaan spiritual yang lebih terstruktur,” kata Karmalie.

Kini, Cetiya Tian Shi Hua diharapkan dapat menjadi ruang yang memberi manfaat bagi masyarakat luas, khususnya umat Buddha.

“Semoga keberadaan Cetiya Tian Shi Hua di PIK 2 ini bisa memberi manfaat bagi masyarakat sekitar, khususnya umat Buddha,” pungkasnya.

Menemukan Kedamaian di Tengah Kesibukan

Bagi pencinta perjalanan yang ingin menemukan pengalaman berbeda, destinasi spiritual seperti Cetiya Tian Shi Hua menawarkan perspektif baru dalam menjelajahi Jakarta dan sekitarnya.

Perjalanan tidak selalu harus diisi dengan mengejar tempat baru atau mengabadikan setiap sudut dalam kamera.

>>> Menepi Sejenak di Tengah Jakarta hingga Kuliner Tanah Air Autentik

Sesekali, perjalanan juga bisa menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak, menikmati suasana yang lebih tenang, dan mengingat kembali pentingnya kedamaian, kebajikan, serta toleransi dalam kehidupan sehari-hari.