Puncak karier bermainnya terukir indah saat ia membela skuad PSM Makassar, tim kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan. Di bawah kontribusinya yang vital, PSM Makassar berhasil menorehkan sejarah emas dengan meraih gelar juara Perserikatan dua kali secara berturut-turut, yakni pada musim 1964-1965 dan 1965-1966. Prestasi ini menjadi salah satu bab paling membanggakan dalam sejarah panjang klub berjuluk "Juku Eja" tersebut.

Tak hanya bersinar di level klub, M Basri juga dipercaya untuk membela kehormatan bangsa. Ia tercatat sebagai bagian dari skuad Timnas Indonesia dalam periode yang cukup panjang, yakni dari tahun 1962 hingga 1973. Dedikasinya mengenakan seragam Garuda menjadikannya salah satu ikon olahraga nasional pada era tersebut.

Transformasi Menjadi Pelatih Visioner dan Penguasa Galatama
Setelah menggantung sepatu, M Basri tidak meninggalkan dunia yang dicintainya. Ia beralih peran menjadi pelatih, dan di sinilah nama "Om Basri" semakin bersinar dan disegani. Kemampuannya dalam membaca permainan dan memanage ego pemain membuatnya menjadi salah satu pelatih paling dicari di masanya.

Keberhasilan pertamanya sebagai pelatih ia raih bersama Persebaya Surabaya, di mana ia berhasil mengantarkan tim "Bajul Ijo" meraih gelar juara Perserikatan pada tahun 1977. Prestasi ini semakin mengukuhkan reputasinya sebagai pelatih yang mampu membawa tim menuju puncak.

Era 1980-an menjadi masa keemasan M Basri di kompetisi Galatama. Ia menangani Niac Mitra dan mengubah tim tersebut menjadi mesin juara yang menakutkan. Di bawah komandonya, Niac Mitra berhasil menyabet tiga gelar juara Galatama, masing-masing pada tahun 1981, 1982, dan 1986. Dominasi ini membuktikan bahwa M Basri memiliki filosofi kepelatihan yang adaptif dan konsisten, mampu bertahan di puncak kompetisi yang sangat kompetitif.