Sutradara ternama Christopher Nolan kembali ke layar lebar dengan film 'The Odyssey', mengadaptasi salah satu epos tertua umat manusia menjadi drama yang imersif dan sangat manusiawi.

Berdasarkan puisi epik Yunani kuno karya Homer, film berdurasi 172 menit ini mengikuti Odysseus (Matt Damon) dalam perjalanan beratnya selama 20 tahun kembali ke tanah kelahirannya, Ithaca, setelah memimpin Yunani meraih kemenangan dalam Perang Troya.

>>> Wawancara Eksklusif: Di Balik Layar STEEL BALL RUN JoJo's Bizarre Adventure

Di sepanjang perjalanan, Odysseus menghadapi tantangan berat dari para dewa dan monster, termasuk raksasa Polyphemus, penyihir Circe, dan dewi laut Calypso.

Sementara itu, di Ithaca, istrinya Penelope (Anne Hathaway) melawan pria-pria berbahaya yang mencoba merebut takhta, sementara putranya Telemachus (Tom Holland) berjuang tumbuh tanpa kehadiran ayah.

Pendekatan Nonlinear dan Fokus pada Manusia

Nolan menggunakan gaya bercerita nonlinear khasnya untuk memadatkan narasi 20 tahun menjadi struktur yang ketat dan menarik.

Alih-alih menampilkan Odysseus sebagai pahlawan mitos yang tak terkalahkan, film ini berfokus pada pikiran seorang prajurit yang kesepian dan lelah.

Ia didorong bukan oleh kemenangan, melainkan oleh trauma dan kerinduan mendalam untuk menemukan penebusan dan pulang ke rumah.

Obsesi Nolan terhadap pembuatan film praktis terlihat jelas di setiap bingkai, menawarkan alternatif yang mencolok dari tontonan standar hasil CGI.

Adegan di dalam Kuda Troya difilmkan dengan sangat hati-hati, menjebak penonton dalam ruang gelap dan sempit bersama para prajurit, menciptakan rasa tegang yang mencekik.

>>> Peringkat Anime Musim Panas 2026 Pekan Ketiga: Tanya the Evil II Kembali ke Puncak

Untuk menangkap skala ini, Nolan merekam seluruh film menggunakan kamera IMAX 70-milimeter di lokasi di Maroko, Yunani, Italia, dan Islandia.