Pearl Abyss memberikan gambaran terperinci tentang filosofi pengembangan di balik Crimson Desert. Studio tersebut mengungkapkan mengapa mereka memilih membangun dunia terbuka sebelum menciptakan misi.

Dalam presentasi di CEDEC 2026, konferensi pengembang game terbesar di Jepang, pimpinan Crimson Desert Design Office Doo Seung-bin dan Kim Hyun-kyum menjelaskan bagaimana tim yang terdiri dari sekitar 200 pengembang menangani proyek yang biasanya membutuhkan tenaga kerja jauh lebih besar.

>>> Hasbro Rilis Action Figure The Legend of Zelda Pertama, Ganondorf Jadi yang Terbesar

Alih-alih mengandalkan struktur berbasis misi tradisional, Pearl Abyss berfokus membuat dunia yang menyenangkan untuk dijelajahi dengan sendirinya.

Kim Hyun-kyum mengatakan studio ingin pemain merasa dihargai terlepas dari apakah mereka mengikuti cerita utama atau tidak.

"Eksplorasi itu sendiri harus terasa seperti gameplay nyata, dengan misi menambahkan konteks dan narasi di atasnya," jelas Kim.

Membalik Proses Desain Dunia Terbuka Tradisional

Menurut Kim Hyun-kyum, banyak game dunia terbuka memulai dengan merancang misi, lalu membangun lingkungan pendukung untuk tujuan tersebut.

Pearl Abyss memutuskan membalik formula itu untuk Crimson Desert.

"Kami ingin dunia terbuka itu sendiri menjadi sumber utama gameplay," kata Kim dalam presentasi CEDEC.

Alih-alih menunggu misi mendefinisikan setiap lokasi, pengembang pertama-tama menciptakan dunia yang dipenuhi peluang eksplorasi, musuh, satwa liar, teka-teki, dan sistem interaktif.

Konten cerita kemudian dilapiskan di atas area tersebut, bukan menjadi fondasinya.

Filosofi ini didorong oleh pengalaman pemain dan efisiensi produksi.

Kim menjelaskan bahwa alur kerja berbasis misi sebelumnya menciptakan rantai produksi panjang di mana perubahan pada misi sering memaksa tim membangun ulang lingkungan dan konten gameplay.