Ruang lingkup pengembangan meliputi pengeboran 16 sumur pengembangan, pembangunan sistem produksi bawah laut, pembangunan FPSO, sistem pemuatan kondensat lepas pantai, pipa penyalur gas berdiameter 32 inci, serta Fasilitas Penerimaan Darat di Terminal Santan.

FPSO Bahtera Haluan Lestari dirancang memiliki kapasitas pengolahan gas sebesar 1 miliar kaki kubik standar per hari (1 BSCFD) atau 1.000 MMSCFD.

Fasilitas tersebut juga mampu mengolah 80.000 barel kondensat per hari, memiliki kapasitas penyimpanan hingga 1,4 juta barel, serta bobot struktur sekitar 145.800 ton.

Proyek ini dikembangkan di perairan dengan kedalaman mencapai lebih dari 2.000 meter dan dijadwalkan mulai berproduksi pada kuartal IV 2028.

Gas yang dihasilkan akan menjadi tambahan pasokan bagi sistem energi nasional sekaligus mendukung pemanfaatan infrastruktur gas dan LNG di Kalimantan Timur.

Pemerintah sebelumnya menyebut kawasan pengembangan gas di Selat Makassar memiliki sumber daya lebih dari 10 triliun kaki kubik (TCF), terdiri atas sekitar 4,1 TCF di Lapangan Geng North dan sekitar 6,3 TCF pada proyek Indonesia Deepwater Development (IDD).

>>> Persib Resmi Bebas Transfer Ban FIFA, Rekrutan Baru Siap Didaftarkan

Potensi tersebut menjadi salah satu penopang peningkatan produksi gas nasional dalam beberapa tahun mendatang.