Berbeda dengan Barat yang mulai menerapkan "melakukan hal sendiri", di Jepang tekanan untuk bekerja di perusahaan masih kuat.

Penerimaan sering kali terkait dengan kepatuhan. Orang menerima Anda jika Anda sesuai dengan harapan mereka.

Lalu apa yang terjadi ketika Anda ingin diterima oleh mereka yang tidak sepaham dengan aspek non-negosiasi dalam hidup Anda?

My Lesbian Experience with Loneliness tidak menunjukkan akar masalah kesehatan mental Nagata, tetapi memperlihatkan apa yang memicunya: persetujuan orang tua dan masyarakat.

Nagata berkali-kali mencoba mendapatkan persetujuan orang tuanya, namun karena ia tidak bahagia dengan ekspektasi mereka, persetujuan itu tak pernah datang.

Pada akhirnya Nagata menyadari kebenaran pahit: kedamaian batin biasanya membutuhkan kekecewaan orang lain. Bagi seseorang yang mengejar validasi, itu adalah kenyataan yang mengerikan.

Namun, manga ini juga menunjukkan bahwa penerimaan membutuhkan perawatan fisik. Penampilan dan cara seseorang membawa diri tetap penting.

Menyaksikan Nagata menyadari bahwa ia perlu bekerja pada penampilannya terasa katarsis.

Seks, Kesepian, dan Pikiran yang Rusak

Nagata Kabi mendekati seks dengan cara yang lucu sekaligus realistis.

>>> Gangguan Telinga Langka yang Menghambat Comeback IU

Saat membaca, saya mendiskusikannya dengan seorang teman yang merasa aneh bahwa seseorang yang canggung secara sosial bisa membayar seorang pekerja seks.

Bagi saya yang pernah depresi, tindakan itu masuk akal. Nagata melihat tindakannya sebagai transaksi, dan tindakan transaksional masuk akal bagi seseorang dalam situasinya.

Namun, pembelian itu tidak termasuk keintiman, kepuasan, atau kenyamanan.

Ketidakberpengalaman seksual Nagata disajikan secara komedi. Seorang otaku yang menggunakan yaoi dan doujin sebagai referensi akan membuat pembaca tersenyum.

Namun, kenyataannya menyedihkan: ada seorang perempuan dewasa yang begitu minim pengetahuan tentang seks hingga menggunakan doujin sebagai acuan.