"Bupati dan wali kota harus menjadi marketing manager bagi daerahnya. Mereka harus memahami potensi wilayah, menjual daerahnya, memberikan kepastian, dan menyelesaikan kendala investor," tegasnya.

Luthfi menilai, Jawa Tengah masih menjadi salah satu daerah yang menarik bagi investor.

Hal itu didukung kondisi keamanan yang kondusif, kepastian hukum, kemudahan perizinan, tenaga kerja yang kompetitif, serta kesiapan kawasan industri.

Pada 2025, realisasi investasi Jawa Tengah mencapai Rp110,64 triliun dan menyerap lebih dari 418 ribu tenaga kerja.

>>> Prabowo Lantik Sudaryono sebagai Kepala BGN Gantikan Nanik Deyang

Sementara pada Triwulan I 2026, investasi mencapai Rp23,02 triliun dengan penyerapan sekitar 92 ribu tenaga kerja.

Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada periode tersebut mencapai 5,89 persen, lebih tinggi dibandingkan nasional sebesar 5,61 persen.

Kota Tegal juga mencatatkan kinerja positif. Realisasi investasinya pada 2025 mencapai Rp791,67 miliar atau 132 persen dari target.

Pada Triwulan I 2026, Kota Tegal kembali masuk dalam 10 besar daerah dengan realisasi investasi tertinggi di Jawa Tengah.

Luthfi menyatakan, investasi besar harus berjalan beriringan dengan penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah.

Jawa Tengah memiliki sekitar 4,9 juta pelaku UMKM yang perlu terus didorong naik kelas melalui pendampingan, perluasan akses pasar, dan dukungan permodalan.

Dalam hal ini, Bank Jateng diminta menjadi salah satu tulang punggung pembiayaan UMKM, serta memperluas layanan kepada perusahaan swasta.

Direktur Utama Bank Jateng, Bambang Widyatmoko mengatakan, Tegal Business Forum merupakan bentuk kolaborasi strategis antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan Bank Jateng.

Forum itu juga menjadi tindak lanjut arahan Gubernur agar Bank Jateng tidak hanya mengelola transaksi pemerintah, tetapi semakin aktif melayani sektor swasta.