Saat ini Oyster ditempatkan di pusat penampungan primata khusus. “Dia sudah beradaptasi dengan baik dan makan dengan lahap,” kata Dew.

Jika tidak ada yang mengklaim, ia akan tetap di sana bersama penjaga berpengalaman.

Ahli hewan eksotis RSPCA, Evie Button, menekankan bahwa primata adalah hewan liar yang sangat cerdas dan sosial.

“Mereka membutuhkan banyak ruang, stimulasi mental, dan teman yang sesuai—kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi hanya oleh manusia,” kata Button.

Button khawatir pemilik yang tidak mampu atau tidak mau mengurus izin justru akan membuang hewan mereka. “Ada kekhawatiran nyata bahwa pemilik kini akan meninggalkan hewan peliharaannya,” ujarnya.

Alison Cronin, direktur Monkey World, mengatakan bahwa perdagangan primata didorong oleh media sosial. “Banyak orang yang berniat baik menjadi korban promosi hewan liar sebagai hewan peliharaan rumah,” katanya.

Cronin menambahkan bahwa pembuangan primata sudah terjadi jauh sebelum aturan baru. “Hewan-hewan ini sudah ada dan mengalami pelecehan serta penelantaran selama bertahun-tahun,” ujarnya.

Chris Lewis dari Born Free menyerukan penegakan aturan yang lebih ketat. “Meskipun bukan larangan total, peraturan ini merupakan langkah penting.

Namun keberhasilannya tergantung pada implementasi dan penegakan yang efektif,” kata Lewis.

>>> 10 Karakter Anime Psikopat Girl Paling Ikonik Sepanjang Masa

RSPCA mencatat 238 laporan terkait pengabaian dan kekejaman terhadap primata antara 2021 dan 2025. Penyelidikan atas insiden bus ini masih berlangsung.