Kamitetep kerap ditemukan menempel di dinding, langit-langit rumah, hingga sela-sela lemari.

Meski berukuran kecil dan tampak seperti serpihan debu, serangga ini bisa memicu gatal pada kulit, terutama bagi orang yang sensitif.

>>> Viral Konspirasi Argentina Tumbal Mafia di Final Piala Dunia 2026

Banyak orang mengira kamitetep adalah ulat atau kepompong kupu-kupu. Padahal, kamitetep merupakan fase larva dari ngengat kantung (bagworm moth).

Larva tersebut hidup di dalam kantung kecil yang terbuat dari debu, serat kain, rambut, hingga serpihan daun. Kantung ini berfungsi sebagai pelindung tubuh dan kamuflase dari predator.

Apa Itu Kamitetep?

Secara biologis, kamitetep adalah larva ngengat dari kelompok bagworm. Siklus hidupnya dimulai dari telur yang menetas menjadi larva, lalu larva membuat kantung sebagai tempat berlindung.

Selama fase larva, kamitetep aktif memakan bahan organik seperti rambut, serpihan kulit mati, serat kain, debu, dan sisa tanaman.

Setelah dewasa, larva berubah menjadi ngengat.

Ngengat jantan keluar dari kantung untuk kawin, sedangkan betina tetap di dalam kantung dan bertelur sebelum mati. Di alam, bagworm banyak ditemukan di pepohonan dan semak-semak.

Kamitetep Bisa Menggigit Manusia

Dosen Departemen Biologi FMIPA Universitas Indonesia (UI), Ratna Yuniati, mengatakan kontak dengan kamitetep dapat menimbulkan reaksi pada kulit.

"Tanda pada kulit jika sudah terkena kamitetep adalah bisa berupa ruam atau bintik kemerahan yang terasa gatal," ujar Ratna dikutip dari situs resmi UI.

Pada orang dengan kulit sensitif, reaksi bisa lebih berat seperti iritasi ringan, pembengkakan, atau reaksi alergi. Namun, kondisi ini umumnya membaik dalam waktu tiga hingga tujuh hari.

Jika gatal semakin parah, muncul lepuhan, atau disertai tanda infeksi seperti nanah dan demam, segera periksakan ke dokter.