Kini, berkat kemajuan pemeriksaan histopatologi dan analisis molekuler, dokter dapat mengidentifikasi subtipe kanker secara jauh lebih spesifik.

Pada kasus kanker payudara, tim medis kini bisa membedakan jenis hormone receptor-positive, HER2-positive, hingga triple-negative breast cancer.

Identifikasi spesifik inilah yang menentukan apakah pasien akan menerima terapi hormonal, terapi target (targeted therapy), terapi anti-HER2, imunoterapi, atau kombinasi di antaranya.

Selain terapi presisi, pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) juga mulai diintegrasikan untuk membantu meningkatkan akurasi pembacaan mammografi dan hasil radiologi lainnya.

Meski begitu, Dr. See mengingatkan bahwa teknologi AI dirancang untuk meminimalkan kesalahan manusia (human error).

Sementara keputusan medis yang krusial tetap sepenuhnya berada di tangan dokter yang memahami kondisi klinis pasien secara utuh.

>>> Arah Hadap Pintu Utama Rumah Terbaik Menurut Feng Shui, Benarkah Timur Selalu Membawa Hoki?

Melalui kombinasi peningkatan kesadaran deteksi dini sejak awal, perluasan cakupan vaksinasi HPV, serta penerapan terapi presisi yang tepat sasaran, peluang pasien untuk sembuh dan menjalani hidup dengan kualitas yang jauh lebih baik kini menjadi semakin terbuka lebar.