Nah, satu-satunya yang mungkin terdekat dan memang sudah dimulai adalah Indonesia,” ujarnya.

Ronald juga meluruskan istilah dalam industri bauksit. “Saya luruskan dulu ya, antara smelter sama refinery.

Jadi kita tidak bisa menyamakan istilah refinery dengan smelter. Kalau smelter itu alumina yang dipanaskan sampai meleleh menjadi aluminium.

Kalau refinery itu dari bauksit menjadi bubuk putih, yaitu alumina,” kata Ronald.

Meski potensi investasi semakin besar, Ronald mengingatkan angka investasi yang diumumkan pemerintah belum seluruhnya menjadi modal yang telah masuk ke Indonesia.

Menurutnya, pembangunan fasilitas pengolahan membutuhkan tahapan sehingga realisasi investasi akan masuk mengikuti perkembangan proyek.

“Kalau sudah masuk, itu sudah menjadi aset di Indonesia. Tapi pembangunan proyek kan bertahap.

Misalnya, pada tahap awal ekuitasnya berapa persen, kemudian mulai konstruksi. Nilai besarnya memang komitmen,” jelas Ronald.

Ia memperkirakan tiga proyek refinery yang sudah berada dalam jalur pembicaraan memiliki nilai investasi sekitar US$4,5 miliar.

“Misalnya ada tiga refinery dengan output dua juta ton, berarti sekitar 1,5 miliar dolar AS dikali tiga.

>>> Tinggal di Pinggiran Kota Kini Jadi Gaya Hidup Baru, Ini Alasannya

Tetapi yang benar-benar masuk ke Indonesia itu bertahap sesuai bobot progres konstruksinya. Jadi kalau proyeknya belum selesai, mungkin baru masuk 100 juta dolar AS dulu, dan seterusnya,” tandasnya.