Indonesia selama puluhan tahun dikenal sebagai produsen tembaga terbesar di dunia, namun nilai tambahnya lebih banyak dinikmati negara lain karena ekspor masih berupa konsentrat.

Kini kondisi itu mulai berubah. Pemerintah mempercepat program hilirisasi mineral agar pengolahan dilakukan di dalam negeri.

>>> Angkatan Laut Kolombia Sita 3 Ton Kokain Senilai Rp2 Triliun

Salah satu tonggak penting adalah beroperasinya smelter PT Freeport Indonesia di KEK JIIPE, Gresik, Jawa Timur, pada 2024.

Smelter tersebut memiliki kapasitas pengolahan hingga 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun dan disebut sebagai smelter tembaga single line terbesar di dunia.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan hilirisasi adalah langkah penting agar kekayaan sumber daya alam memberikan manfaat ekonomi lebih besar bagi Indonesia.

"Kita harus berani dan mampu menguasai kekayaan sumber daya alam.

Hilirisasi adalah jalan satu-satunya untuk kita bisa lebih makmur," ujar Prabowo saat Groundbreaking 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II di Cilacap, dikutip dari CNBC Indonesia.

Hilirisasi Bangun Ekosistem Industri

Kehadiran smelter Freeport di KEK JIIPE mulai membentuk ekosistem industri baru yang terintegrasi.

Lokasi di kawasan industri dan pelabuhan memangkas biaya logistik karena bahan baku lebih dekat dengan industri pengguna.

Kondisi ini membuka peluang tumbuhnya sektor hilir seperti industri kabel, komponen elektronik, material konstruksi, hingga pendukung kendaraan listrik dan energi terbarukan.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menilai pengembangan industri turunan tembaga di Gresik memperkuat struktur ekonomi daerah dan daya saing industri nasional.

Proyek terintegrasi itu diperkirakan menyerap sekitar 7.000 tenaga kerja terampil. Pemprov Jatim terus memperkuat infrastruktur jalan menuju kawasan industri dan pelabuhan.