Polri turun tangan membantu proses penyelamatan dua warga negara Indonesia (WNI) yang diduga disekap di Kota Myawaddy, Myanmar.

Kedua WNI itu diketahui bekerja sebagai operator penipuan daring (online scam).

>>> Basarnas: Korban Selamat KM Nurul Salsa Total Menjadi 59 Orang

Hal tersebut disampaikan oleh Ses NCB Interpol Indonesia Divhubinter Polri Brigjen Untung Widyatmoko saat dikonfirmasi, Minggu (19/7).

"Sudah (monitor), lagi kami upayakan berbagai langkah untuk yang bersangkutan, yang bersangkutan operator scamming online," kata Untung.

Menurut Untung, Polri terus berkoordinasi dengan para pihak terkait untuk proses penyelamatan kedua WNI tersebut. Terlebih mengingat keduanya disekap di wilayah Myawaddy.

Myawaddy adalah wilayah perbatasan Myanmar dengan Thailand yang menjadi zona konflik bersenjata antara junta militer dan kelompok pemberontak.

Wilayah tersebut juga merupakan area yang sangat berbahaya dan sulit diakses pemerintah, serta sering menjadi lokasi penyekapan WNI korban penipuan kerja.

"Polisi Myanmar mereka juga enggak berani masuk karena diduga disekap di wilayah pemberontak," ujar Untung.

Sebelumnya, sebuah video beredar luas di media sosial memperlihatkan dua perempuan WNI dalam kondisi diborgol dan mengaku sedang disekap di Myanmar.

>>> Menkop Ferry Juliantono Dukung Motor Listrik Nasional, Apresiasi MIMO di Harkopnas

Mereka berkirim video meminta bantuan agar bisa dipulangkan.

Satu dari dua wanita muda itu diketahui bernama Ayu, warga Garagahan, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sumatera Barat memverifikasi bahwa salah satu sosok dalam video adalah Ayu.

Kepala BP3MI Sumbar Jupriyadi mengatakan, setelah video viral, pihaknya langsung berkoordinasi dengan Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Agam hingga Polda Sumbar.

Ayu diduga berangkat ke luar negeri secara nonprosedural atau tidak melalui jalur resmi. Karenanya, BP3MI tidak memiliki data keberangkatannya.

"Kalau PMI (Pekerja Migran Indonesia) berangkat secara tidak resmi, kami memang tidak mempunyai datanya. Biasanya, kami baru mengetahui ketika sudah muncul permasalahan (seperti ini)," kata Jupriyadi.

Jupriyadi menduga pekerjaan yang dijalani Ayu dan temannya berkaitan dengan praktik penipuan daring atau scamming.

>>> Puluhan Mobil Baru Siap Meluncur di GIIAS 2026

"Kalau wilayah-wilayah Myanmar seperti itu, biasanya pekerjaan yang ada berkaitan dengan scam atau scamming," ucap dia.