Jagat sinema dunia kembali diguncang oleh nama besar Christopher Nolan. Belum lama berselang dari kesuksesan Oppenheimer, sutradara jenius tersebut kembali membuktikan bahwa ia adalah "raja midas" di Hollywood lewat film terbarunya, The Odyssey.
 
Tidak sekadar memenuhi ekspektasi, film epik yang diadaptasi dari karya sastra klasik Homer ini justru mendapat standing ovation dari para kritikus film global. Debutnya di layar lebar disebut-sebut sebagai sebuah pencapaian sinematik yang mendefinisikan ulang makna kata "epik" di era modern.
 
Bagi Anda yang penasaran apakah film ini layak masuk dalam daftar tontonan akhir pekan, simak ulasan lengkap dan reaksi para kritikus berikut ini.
 

Rekor Fantastis dan Status "Certified Fresh"

Berdasarkan data terbaru dari laman agregator ulasan film ternama, Rotten Tomatoes, per Kamis (16/7/2026), The Odyssey berhasil meraih skor nyaris sempurna. Film ini mengantongi rating 96 persen Fresh dari total 195 ulasan kritikus film internasional.
 
Angka ini bukan sekadar statistik. Skor setinggi ini menempatkan The Odyssey sebagai salah satu film dengan rating tertinggi di tahun 2026, sekaligus membuktikan bahwa film berdurasi panjang dengan tema mitologi klasik masih sangat relevan dan digemari oleh penonton maupun kritikus masa kini.
 

Keberanian Nolan Menghidupkan Mitos Kuno

Adaptasi dari puisi epik Homer yang telah berusia ribuan tahun bukanlah tugas yang mudah. Namun, para kritikus sepakat bahwa Nolan berhasil melakukan sihir sinematik: membuat kisah kuno ini terasa sangat segar, mendesak, dan baru.
 
Jake Wilson dari Sydney Morning Herald menyoroti obsesi Nolan terhadap waktu. "Christopher Nolan memang memiliki keahlian dalam memainkan paradoks waktu. Setelah sebelumnya membangun narasi yang berjalan mundur, lewat adaptasi berbiaya besar atas The Odyssey, ia kini mengambil taruhan yang lebih berani," tulis Wilson.
 
Wilson menambahkan, Nolan berhasil menghidupkan kembali salah satu kisah tertua dalam peradaban Barat dan mengemasnya dengan bahasa visual yang benar-benar baru bagi audiens kontemporer.
 
Senada dengan itu, Hannah Strong dari Little White Lies memuji kemampuan Nolan dalam menerjemahkan keindahan puisi ke dalam bahasa gambar. Di tengah era di mana nilai literasi sering kali tergerus oleh visual cepat, film ini justru menjadi antitesisnya.
 
"Kekayaan The Odyssey terletak pada sifat metatekstualnya... Di tengah semakin merosotnya nilai kata-kata, film seperti ini justru menegaskan bahwa kata-kata memiliki arti dan kekuatan yang lebih penting daripada sebelumnya," puji Strong.