Luruskan Akidah: Kesialan Sejati adalah Kemaksiatan

Melalui teks khutbah Jumat 24 Juli 2026 ini, NU mengajak umat Islam untuk kembali pada akidah yang lurus. Semua waktu, hari, dan bulan adalah ciptaan Allah SWT. Baik dan buruk yang menimpa manusia tidak bersumber dari nama bulan, melainkan atas ketetapan Allah serta berkaitan dengan sebab-akibat (ikhtiar) yang telah ditentukan-Nya.
 
Kesialan yang sesungguhnya bukanlah datangnya bulan Safar. Kesialan yang hakiki adalah ketika hati manusia lalai dari mengingat Allah, meninggalkan kewajiban, menzalimi sesama, dan terus-menerus tenggelam dalam kemaksiatan.
 

 

Teks Khutbah Jumat 24 Juli 2026 (NU Online)

Berikut adalah teks lengkap khutbah Jumat dari NU Online yang dapat dijadikan rujukan bagi para khatib di seluruh Indonesia.
 

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَ وَالْجِنَّ لِيُكَلِّفَهُمْ أَنْ يُوَحِّدُوهُ وَيَعْبُدُوهُ وَيُقَدِّسُوهُ وَيُمَجِّدُوهُ وَيَشْكُرُوهُ وَلَا يَكْفُرُوهُ وَيُطِيْعُوهُ وَلَا يَعْصُوهُ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدؓ عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ خَيْرِ الْمُوَحِّدِيْنَ وَالْمُسَبِّحِيْنَ وَالْحَامِدِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ. قال الله تعالى في كتابه الكريم: إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ
 
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
 
Marilah kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Takwa adalah bekal terbaik dalam menjalani kehidupan dunia dan jalan menuju keselamatan di akhirat.
 
Kita sedang berada pada bulan Safar, bulan kedua dalam kalender Hijriah. Setiap kali bulan ini datang, masih ada sebagian masyarakat yang mengaitkannya dengan kesialan, bencana, atau ketidakberuntungan. Karena keyakinan tersebut, ada orang yang merasa takut melangsungkan pernikahan, memulai usaha, melakukan perjalanan, atau menyelenggarakan kegiatan penting pada bulan Safar.
 
Keyakinan semacam itu perlu diluruskan. Dalam Islam, tidak ada bulan yang dengan sendirinya membawa kesialan. Semua waktu adalah ciptaan Allah SWT. Baik dan buruk yang menimpa manusia tidak bersumber dari nama bulan, hari, atau tanggal tertentu, tetapi terjadi atas ketetapan Allah SWT serta berkaitan dengan sebab-sebab yang telah ditentukan-Nya.
 
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
 
Kita harus membedakan antara kehati-hatian yang dibenarkan agama dan ketakutan yang lahir dari mitos. Berhati-hati berarti mempertimbangkan risiko, mempersiapkan diri dengan baik, berdoa, dan bertawakal kepada Allah. Adapun menganggap suatu bulan memiliki kekuatan untuk mendatangkan kesialan merupakan keyakinan yang tidak memiliki dasar yang benar.
 
Sebagian ulama juga mencatat berbagai peristiwa penting yang berlangsung pada bulan Safar. Syekh Abu Bakar al-Adni, dalam kitab Mandzumah Syarhil Atsar fi Ma Warada 'an Syahri Shafar, menyebut sejumlah peristiwa dalam sejarah Islam yang berkaitan dengan bulan ini. Catatan tersebut menunjukkan bahwa Safar tidak patut diperlakukan sebagai waktu yang harus ditakuti atau dihindari.
 
Karena itu, seorang Muslim tidak seharusnya membatalkan rencana yang baik hanya karena takut kepada bulan Safar. Pernikahan, perjalanan, pekerjaan, pendidikan, perdagangan, dan berbagai kegiatan yang halal tetap boleh dilakukan. Yang harus diperhatikan bukan nama bulannya, melainkan kesiapan, kemaslahatan, serta kesesuaian kegiatan tersebut dengan ajaran agama.
 
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
 
Meskipun Islam menolak anggapan bahwa Safar merupakan bulan sial, bukan berarti kita diperbolehkan hidup tanpa kewaspadaan. Seorang mukmin tetap diperintahkan untuk menjaga diri, memperbanyak doa, memperbaiki amal, dan memohon perlindungan kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman:
 
إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ
 
Artinya, “Sesungguhnya mereka yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka.” (QS. al-Mu’minun [23]: 57)
 
Ayat ini mengajarkan bahwa kehati-hatian seorang mukmin bersumber dari rasa takut dan tunduk kepada Allah, bukan dari prasangka terhadap waktu tertentu. Ia berhati-hati agar tidak melakukan dosa, tidak menzalimi orang lain, dan tidak mengabaikan tanggung jawab.
 
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
 
Inilah keseimbangan yang harus kita pelihara. Di satu sisi, kita menolak keyakinan bahwa bulan Safar membawa kesialan. Di sisi lain, kita tidak boleh merasa sombong dan menganggap diri terbebas dari segala kemungkinan musibah. Kita tetap membutuhkan pertolongan Allah, sehingga doa, zikir, sedekah, dan amal saleh perlu terus diperbanyak pada setiap waktu.
 
Syekh Abu Bakar al-Adni menukil sebuah doa bagi orang yang mulai merasakan firasat buruk atau waswas akibat mitos:
 
مَنْ عَرَضَ لَهُ مِنْ هَذِهِ الطِّيَرَةِ شَيْءٌ، فَلْيَقُلْ: اَللّٰهُمَّ لَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ، وَلَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ، وَلَا إِلٰهَ غَيْرُكَ.
 
Artinya, “Barang siapa yang mendapat satu dari sekian firasat buruk yang ada (tentang bulan Safar), hendaklah dia berdoa, ‘Ya Allah, tidak ada kesialan selain kesialan yang Engkau tetapkan, tidak ada kebaikan selain kebaikan dari-Mu, dan tidak ada Tuhan selain Engkau’.”
 
Doa ini mengajarkan tauhid dan keteguhan hati. Seorang mukmin meyakini bahwa tidak ada satu pun makhluk yang memiliki kekuasaan mutlak untuk mendatangkan manfaat atau menolak bahaya. Hanya Allah SWT yang mengatur seluruh kehidupan.
 
 
Marilah kita memasuki dan menjalani bulan Safar dengan keyakinan yang lurus, hati yang tenang, ikhtiar yang sungguh-sungguh, serta lisan yang senantiasa berzikir kepada Allah SWT. Jangan biarkan mitos menguasai pikiran kita.
 
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.