Memasuki pekan terakhir bulan Juli 2026, umat Islam di Indonesia tengah menjalani ibadah di bulan Safar 1448 Hijriah. Bagi para khatib dan pengurus masjid, mencari referensi teks khutbah Jumat yang relevan, sejuk, dan mencerahkan menjadi rutinitas mingguan yang penting.
 
Menjawab kebutuhan tersebut, Nahdlatul Ulama (NU) melalui NU Online telah merilis teks khutbah Jumat untuk tanggal 24 Juli 2026 yang mengangkat tema sangat penting: Memaknai Bulan Safar dan Menghapus Mitos Kesialan.
 
Teks khutbah ini menjadi panduan berharga bagi para khatib untuk meluruskan pemahaman masyarakat yang masih kerap mengaitkan bulan Safar dengan takhayul, mitos, dan anggapan buruk. Berikut adalah ulasan lengkap dan teks khutbah Jumat dari NU yang asyik dibaca dan sarat akan nilai tauhid.
 

 

Mengapa Mitos Bulan Safar Masih Hidup?

Bulan Safar adalah bulan kedua dalam kalender Hijriah setelah Muharram. Sayangnya, di sebagian masyarakat Nusantara, bulan ini masih "dipersalahkan". Tidak sedikit orang yang menolak melangsungkan hajatan pernikahan, enggan memulai usaha baru, atau bahkan takut bepergian jauh karena percaya bahwa Safar adalah bulan pembawa sial atau bala.
 
Padahal, Islam datang untuk menghapus segala bentuk khurafat dan takhayul. Rasulullah SAW secara tegas menolak konsep Tiyarah (merasa sial karena waktu, tempat, atau benda tertentu).
 
Lantas, dari mana asal-usul nama Safar dan mitos kesialannya?
 
Dalam khutbahnya, NU mengutip penjelasan Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya (Jilid 4, halaman 146). Beliau menjelaskan bahwa nama "Safar" secara bahasa berkaitan dengan kondisi rumah-rumah masyarakat Arab di masa lalu yang menjadi kosong (shifr). Hal ini terjadi karena para penghuninya keluar rumah untuk melakukan perjalanan jauh (safar) atau berperang.
 
Jadi, "kosongnya" rumah tersebut adalah fakta sosiologis dan historis, sama sekali bukan indikasi bahwa bulan tersebut membawa energi negatif atau kutukan kesialan.