Ben Shapiro, komentator konservatif dan pembawa acara "The Ben Shapiro Show", menulis bahwa Amerika Serikat menghadapi ancaman yang melampaui perpecahan tradisional antara Demokrat dan Republik.

Menurutnya, dua gerakan ideologis—satu dari kiri jauh dan satu lagi dari kanan populis—sama-sama bersedia menggerogoti prinsip-prinsip yang telah lama mendefinisikan eksperimen Amerika.

>>> Audit Ungkap Kekacauan Tagihan Utilitas di Rocky Mount

Pengaruh Demokrat Sosialis dan Risiko Pemilu 2026

Shapiro menyoroti pengaruh Democratic Socialists of America yang semakin besar di dalam Partai Demokrat.

Sayap aktivis partai itu, katanya, semakin bermusuhan dengan gagasan kebebasan berbicara, kebebasan beragama, hak milik pribadi, pasar bebas, dan keyakinan bahwa Amerika adalah bangsa yang luar biasa.

Dampak politiknya tidak lagi hipotetis. Demokrat memiliki peluang realistis untuk merebut kembali kendali Kongres dalam pemilu paruh waktu 2026.

Persaingan ketat Senat di North Carolina, Ohio, Maine, Texas, Alaska, dan Iowa menunjukkan betapa tipisnya margin yang ada.

Jika Demokrat merebut kembali House dan Senate, konsekuensinya akan melampaui dua tahun ke depan.

Ancaman terhadap Peradilan Federal

Shapiro menekankan bahwa peradilan federal adalah contoh paling jelas. Hakim Agung Clarence Thomas dan Samuel Alito sama-sama berusia akhir 70-an.

Jika terjadi kekosongan saat Demokrat menguasai Senat, keseimbangan ideologis Mahkamah Agung bisa bergeser selama satu generasi.

Mayoritas liberal baru akan memengaruhi interpretasi konstitusi dalam berbagai hal, mulai dari wewenang eksekutif dan kebebasan beragama hingga regulasi ekonomi dan negara administratif.

Pada saat yang sama, Demokrat akan mempercepat konfirmasi di seluruh peradilan federal, meninggalkan jejak yang akan bertahan lebih lama dari pemerintahan mana pun.

Taruhan tinggi ini membuat perkembangan terkini di pihak kanan menjadi sangat penting.