C-17 Globemaster III memiliki kemampuan mendarat yang jarang dimiliki pesawat militer lain.

Pesawat angkut ini dapat mendarat di landasan sepanjang 3.500 kaki dan lebar hanya 90 kaki sambil membawa muatan berat.

>>> Ahmad Luthfi Raih Impactful Regional Leadership di SBBI Award 2026

Kemampuan itu berkat sistem high-lift wing, slats, dan externally blown flaps. Namun, sistem yang sama menimbulkan masalah kebisingan khas saat mendarat.

NASA dan Angkatan Udara AS telah mempelajari kebisingan tersebut. Bagi komunitas di dekat pangkalan, teknologi yang memungkinkan pendaratan cepat ini bisa menjadi masalah lingkungan.

Sistem Pendaratan dengan Konsekuensi

C-17 bukan pesawat kecil yang berpura-pura lincah.

Panjangnya 174 kaki, rentang sayap hampir 170 kaki, dan menggunakan empat mesin turbofan Pratt & Whitney F117-PW-100 dengan daya dorong masing-masing 40.440 pon.

Muatan maksimumnya mencapai 170.900 pon, dan berat lepas landas maksimum 585.000 pon.

Artinya, pesawat ini bisa memindahkan tank, helikopter, pasukan, tim medis, dan perlengkapan ke tempat yang tidak bisa dijangkau pesawat angkut berat biasa.

Boeing menyebut C-17 sebagai pesawat angkut empat mesin yang dirancang untuk "landasan udara kecil dan sederhana".

Pesawat ini menggabungkan performa landasan pendek dengan penanganan muatan besar dan pengisian bahan bakar di udara.

Sistem externally blown flap menggunakan hembusan mesin untuk membantu sayap menghasilkan gaya angkat pada kecepatan rendah.

NASA menjelaskan bahwa flap trailing-edge berlubang besar dapat membelokkan aliran hembusan turbofan untuk menciptakan "gaya angkat sangat tinggi" saat lepas landas dan mendarat.

Mengapa Suara Pendaratan Berbeda

Pada pesawat konvensional, kebisingan pendaratan biasanya berasal dari mesin, roda pendaratan, slats, dan flap yang memotong udara. Pada C-17, ada lapisan lain.