Parlemen Israel Resmi Bubar, Nasib Politik Netanyahu Dipertaruhkan
Peta politik Israel memasuki babak baru setelah parlemen (Knesset) resmi dibubarkan pada Jumat lalu.
Langkah ini sekaligus menandai dimulainya kampanye menuju pemilihan nasional yang dijadwalkan pada 27 Oktober mendatang.
>>> Mantan Bintang NBA Baron Davis Digugat Adiknya Atas Tuduhan Penipuan
Pembubaran Knesset ke-25 dinilai sebagai referendum politik bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Kebijakan pemerintahannya dalam perang di Gaza, Lebanon, dan Iran menjadi sorotan utama dan memicu perdebatan luas di dalam negeri.
Menariknya, untuk pertama kalinya sejak 1988, Knesset berhasil menyelesaikan masa jabatan penuh selama empat tahun.
Dinamika politik Israel yang tidak stabil biasanya membuat koalisi runtuh sebelum waktunya, sehingga pemilu kerap digelar lebih awal.
Aturan Kontroversial dan Dukungan Koalisi
Sebelum reses, parlemen menggelar sesi pemungutan suara maraton semalaman.
Salah satu aturan penting yang disahkan adalah Undang-Undang Pendanaan Partai, yang memberikan akses dana negara bagi partai politik untuk kampanye dan mengukuhkan jadwal pemungutan suara pada 27 Oktober.
Koalisi garis keras pimpinan Netanyahu juga mendorong regulasi kontroversial.
Undang-Undang Komunikasi, misalnya, disahkan dengan suara 53 berbanding 48, yang membubarkan regulator media independen dan menggantinya dengan otoritas penyiaran di bawah pengawasan pemerintah.
>>> Financial Check-up Tengah Tahun: Evaluasi Kesehatan Keuangan Anda
Selain itu, parlemen menyetujui undang-undang yang memberikan perlindungan bagi pria ultra-Ortodoks dari kewajiban wajib militer.
Langkah-langkah ini diambil untuk mempertahankan dukungan mitra koalisi dari kelompok religius dan nasionalis agar pemerintahan tidak pecah sebelum kampanye.
Tantangan Berat bagi Netanyahu
Meski demikian, jalan Netanyahu untuk kembali berkuasa diperkirakan tidak mudah. Kemarahan publik terhadap perang, terutama konflik dengan Iran, menjadi tantangan besar bagi koalisi pemerintah.
Hasil jajak pendapat menunjukkan Partai Likud yang dipimpin Netanyahu tertinggal dari kubu oposisi.
Blok pendukung Netanyahu juga masih jauh dari ambang mayoritas 61 kursi yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan.
Ancaman terbesar datang dari partai sentris baru, Yashar, yang dipimpin mantan Kepala Staf Militer Israel, Gadi Eisenkot. Dalam survei terbaru, partai tersebut dilaporkan melampaui elektabilitas Likud.
Sementara itu, pemimpin partai sayap kanan sekuler Yisrael Beiteinu, Avigdor Liberman, menyatakan optimisme. “Pada 27 Oktober, kita akan menang.
>>> Argentina Pakai Jersey Juara Lawan Spanyol di Final Piala Dunia 2026
Kita akan mengganti pemerintah… dan membangun kembali negara ini,” katanya.
Update Terbaru
Xi Jinping di WAIC 2026: China Resmikan Aliansi AI Global, Tantang Dominasi AS
Sabtu / 18-07-2026, 10:40 WIB
Promo Bonus Top Up 100% Free Fire Juli 2026, Raih Hingga 1000 Diamond Gratis
Sabtu / 18-07-2026, 10:39 WIB
Geger di Jakarta Selatan: Bos Perusahaan Ditemukan Tewas dengan Luka Tembak di Kepala, Polisi Duga Kuat Aksi Bunuh Diri
Sabtu / 18-07-2026, 10:22 WIB
Jadwal Bioskop Trans TV 19 - 26 Juli 2026
Sabtu / 18-07-2026, 10:12 WIB
Rating TV Terbaru per Sabtu, 18 Juli 2026: Sinetron dan Dangdut Bersaing Ketat, SCTV hingga Indosiar Merajai Layar Kaca!
Sabtu / 18-07-2026, 10:08 WIB
Nano Machine Chapter 318: Jadwal Rilis dan Preview Awal
Sabtu / 18-07-2026, 10:00 WIB
5 Camilan Manis Sehat Pilihan Pakar Diet saat Ngidam Gula
Sabtu / 18-07-2026, 09:59 WIB







