Di tengah derasnya arus informasi dan sisa-sisa kepercayaan pra-Islam yang masih melekat di sebagian masyarakat, bulan Shafar kerap kali dipandang sebelah mata. Tidak sedikit yang menganggap bulan kedua dalam kalender Hijriah ini sebagai periode "sial", penuh bencana, atau waktu yang pantang digunakan untuk melangsungkan hajatan besar, termasuk pernikahan.
 
Namun, narasi pesimistis ini secara tegas dipatahkan oleh ajaran Islam yang datang membawa cahaya tauhid. Melalui Khutbah Jumat edisi Juli 2026 dengan tema "Bulan Shafar Bukan Bulan Sial, Rasulullah Ajarkan Optimis", umat Islam kembali diingatkan untuk meluruskan akidah. Islam hadir bukan untuk mengikat manusia dengan belenggu tahayul, melainkan untuk membebaskan pikiran dengan semangat optimisme (fa’l) dan keyakinan teguh bahwa hanya Allah SWT yang memegang kendali penuh atas segala manfaat dan mudarat.
 
Berikut adalah ulasan mendalam dan pengembangan dari materi khutbah yang dikutip dari khazanah keilmuan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, yang disajikan secara komprehensif untuk memperkaya wawasan keislaman Anda.
 

 

Jejak Sejarah yang Mematahkan Mitos Kesialan

Jika kita menelusuri lembaran sejarah kehidupan Rasulullah SAW, bulan Shafar justru menjadi saksi bisu dari berbagai peristiwa agung yang penuh berkah. Narasi bahwa Shafar adalah bulan sial sama sekali tidak memiliki landasan fakta, baik secara syar’i maupun historis.
 
Sebagai contoh yang paling dekat dengan hati umat Islam, Rasulullah SAW melangsungkan pernikahan pertamanya dengan Siti Khadijah RA di bulan Shafar. Bukannya mendatangkan kesialan, rumah tangga yang dibangun di bulan ini justru menjadi teladan sakinah, mawaddah, wa rahmah yang paling sempurna sepanjang peradaban manusia. Dari pernikahan inilah lahir keturunan-keturunan terbaik yang meneruskan estafet dakwah Islam.
 
Tidak berhenti di situ, Rasulullah SAW juga menikahkan putri tercintanya, Fatimah Az-Zahra, dengan Ali bin Abi Thalib di bulan yang sama. Keluarga ini kemudian menjadi pilar utama dalam sejarah Islam, melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga agung secara spiritual. Fakta-fakta historis ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi siapa pun yang masih ragu untuk memulai babak baru kehidupan, seperti pernikahan, di bulan Shafar.