Hijrah dan Khaibar: Momentum Kemenangan, Bukan Tragedi

Pengembangan narasi optimisme di bulan Shafar juga dapat dilihat dari dua peristiwa monumental lainnya. Pertama, peristiwa Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Meskipun proses perencanaan dan perpindahan umat Islam terjadi melintasi beberapa bulan, momentum penting dalam perjalanan dakwah ini memiliki kaitan erat dengan bulan-bulan awal tahun Hijriah, termasuk Shafar, di mana fondasi masyarakat Islam baru mulai dibangun dengan penuh harap dan tawakal.
 
Kedua, kemenangan gemilang kaum muslimin dalam Perang Khaibar. Pertempuran yang terjadi pada bulan Shafar tahun ke-7 Hijriah ini menjadi bukti nyata pertolongan Allah SWT. Di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW, pasukan Islam berhasil membuka benteng Khaibar yang sebelumnya dianggap tak terkalahkan. Ini adalah bukti konkret bahwa Shafar adalah bulan kemenangan, bulan di mana iman diuji dan dibalas dengan kejayaan, bukan bulan yang dipenuhi kesialan.
 

Thiyarah vs. Fa’l: Pertarungan Antara Pesimisme dan Optimisme

Dalam khutbahnya, para khatib menekankan pentingnya memahami perbedaan mendasar antara thiyarah dan fa’l. Merasa sial karena bulan tertentu, burung yang melintas, atau angka tertentu adalah bentuk thiyarah (menganggap sial) yang secara tegas dilarang dalam Islam. Perilaku ini merupakan sisa-sisa pemikiran jahiliyah yang dapat melemahkan iman dan membuat seseorang bergantung pada selain Allah.
 
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim: "La ‘adwa wa la thiyarah, wa a’jabuni al-fa’lu."
Artinya: "Tidak ada penularan (penyakit tanpa izin Allah), tidak ada kesialan (karena tanda-tanda tertentu), dan aku menyukai fa’l (optimisme)."
 
Fa’l adalah harapan baik dan prasangka positif kepada Allah SWT. Seorang mukmin diajarkan untuk selalu berprasangka baik, bekerja keras, dan berserah diri, alih-alih terpuruk dalam ketakutan yang tidak berdasar. Optimisme inilah yang menjadi bahan bakar spiritual untuk terus bergerak maju menghadapi dinamika kehidupan.