"Target dari Bappenas 250 ribu, tapi kita bisa mencapai 296 ribu. Jadi sebenarnya kita 100 persen lebih penempatan kita tahun 2025 dari seluruh skema penempatan," ujar Mukhtarudin.

Meski demikian, Mukhtarudin mengakui realisasi penempatan melalui skema G to G, khususnya ke Korea Selatan, belum mencapai target yang ditetapkan.

Dari target 8.200 penempatan yang menjadi dasar penerimaan negara bukan pajak (PNBP), realisasinya baru mencapai sekitar 6.800 orang.

Ia mengatakan capaian tersebut menyebabkan masih terdapat sisa anggaran pada program penempatan sekitar Rp19,457 miliar, sehingga realisasi serapan anggaran pada pos penempatan hanya mencapai sekitar 75 persen.

Menurut Mukhtarudin, rendahnya realisasi pada skema G to G tidak mencerminkan kinerja keseluruhan penempatan pekerja migran Indonesia.

Pasalnya, capaian penempatan terbesar justru berasal dari skema P to P yang dilakukan melalui Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI).

Ia menilai skema tersebut memberi dampak ekonomi yang lebih luas karena melibatkan sektor riil dan menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi masyarakat.

"Jadi penempatan kita yang terbesar memang dari P3MI ataupun dari private to private, yang P to P.

Jadi sekarang ini yang P to P ini yang berdampak secara ekonomi kepada masyarakat. Karena pelakunya adalah sektor riil.

>>> Jerman Usul UNIFIL di Lebanon Diganti Pasukan Uni Eropa

Jadi memang kita mendorong agar sektor riil ini bergerak. Karena begitu sektor riil bergerak di bawah, multiplier effect-nya besar," ujar Mukhtarudin.