Sepuluh tahun lalu, Phoebe Waller-Bridge menatap kamera dan bertanya kepada penonton: "Apakah aku punya pantat yang besar?"

Kalimat itu menjadi pembuka yang tak terduga dari monolog tentang kencan yang berakhir kacau.

>>> AS Serang Fasilitas Militer Iran, Iran Balas dengan Rudal ke Sekutu AS

Serial komedi setengah jam berjudul Fleabag itu memecahkan dinding keempat dan langsung viral.

Musim keduanya bahkan lebih besar, memicu banyak artikel tentang "pendeta seksi" yang diperankan Andrew Scott dan jumpsuit Topshop yang laris manis.

Baik Fleabag maupun Waller-Bridge dipuji karena membuka jalan bagi kreator perempuan dan karya feminis. Kesuksesan itu mengamankan kontrak eksklusif Waller-Bridge dengan Amazon senilai $20 juta per tahun.

Namun, satu dekade kemudian, bagaimana perubahan yang dibawa Fleabag pada industri televisi Inggris? Terutama dengan munculnya platform streaming, pemotongan anggaran, dan berkurangnya peluang bagi talenta baru.

Gelombang Fleabag dan Dampaknya

Pada pertengahan 2010-an, feminisme populer ada di mana-mana, kecuali di televisi Inggris.

Laporan Writers' Guild of Great Britain menunjukkan bahwa dari 2001 hingga 2016, hanya 14% acara prime-time ditulis oleh perempuan, dan hanya 11% untuk sitkom.

Chris Sussman, mantan komisioner komedi BBC, mengatakan bahwa ketidakseimbangan gender sudah diketahui bahkan sebelum Fleabag dibuat. "Selalu ada keinginan untuk mengubahnya," ujarnya.

Perubahan sudah mulai terjadi.

Di AS, serial Girls karya Lena Dunham tayang perdana pada 2012 dan menciptakan selera untuk komedi karya perempuan yang berani, canggung, rentan, dan aneh.

Fleabag menjadi bagian dari gelombang itu, tetapi menonjol di antara yang lain.

Faye Woods, profesor madya film dan televisi di University of Reading, mengatakan bahwa Fleabag dengan mulus masuk ke dalam siklus komedi perempuan kelas menengah kulit putih yang "tidak patuh".