Amboko menggambarkan pengalaman akhirnya bertemu monyet itu sebagai "perasaan luar biasa".

Monyet-monyet ini juga berkomunikasi menggunakan vokalisasi khas yang sangat keras, terdengar di seluruh hutan, yang disebut "raungan" oleh peneliti.

"Anda sering mendengarnya, tetapi tidak melihatnya," kata Amboko.

Profesor Kate Detwiler, profesor asosiasi di Florida Atlantic University dan penulis senior studi, menganalisis sampel genetik yang mengonfirmasi klasifikasi tersebut.

"Kami terkejut dengan data genetik karena memberikan sinyal divergensi yang dalam," kata Detwiler.

Ia menjelaskan bahwa monyet tanpa ibu jari ini memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan ekosistem hutan setempat.

"Mereka adalah herbivora kanopi yang merupakan bagian penting dari ekosistem. Kami pikir mereka berperan besar dalam memproses biji dan perkecambahan di hutan," ujar Detwiler.

Spesies yang baru diidentifikasi ini menghadapi ancaman signifikan dari perburuan dan hilangnya habitat.

>>> Wamentan: Pelaku Usaha yang Rugikan Peternak Ayam dan Telur Siap Disanksi Pidana

Penulis studi menyerukan perlindungan Taman Nasional Lomami dan keterlibatan masyarakat lokal untuk tidak berburu spesies ini demi konservasinya.