Para ilmuwan berhasil mendeteksi jejak senyawa psikoaktif ganja dalam tulang manusia yang telah berusia lebih dari 300 tahun.

Temuan ini dianggap sebagai terobosan dalam ilmu arkeologi dan toksikologi forensik.

>>> Kesulitan Mendengar di Tempat Bising Bisa Gandakan Risiko Demensia

Penelitian dilakukan pada fragmen tulang dari sembilan individu yang dimakamkan di kripta Ca' Granda, bagian dari Ospedale Maggiore di Milan, Italia.

Mereka diperkirakan meninggal antara tahun 1638 hingga 1697.

Bukti Langka dalam Tulang Kuno

Dari sembilan sampel tulang paha yang dianalisis, dua di antaranya—sekitar 22 persen—mengandung tetrahydrocannabinol (THC) dan cannabidiol (CBD).

Kedua molekul ini merupakan komponen utama dalam ganja.

Peneliti menjelaskan bahwa senyawa tersebut terserap ke dalam aliran darah dan kemudian terperangkap di jaringan tulang. Proses ini memungkinkan pelestarian jejak kimia selama berabad-abad.

Studi sebelumnya di kripta yang sama telah mendeteksi opium pada tulang tengkorak. Hal ini mendorong para peneliti untuk mencari zat lain pada sampel tulang yang berbeda.

>>> Pusat Badai Nasional Pantau Sistem Tekanan Rendah di Dekat Florida

Menurut analisis, individu-individu ini terpapar ganja dalam waktu singkat atau beberapa tahun sebelum kematian mereka. Namun, penyebab pasti paparan masih belum diketahui.

Yang menarik, ganja tidak tercatat dalam farmakope resmi rumah sakit Ca' Granda pada masa itu. Ini menunjukkan bahwa tanaman tersebut kemungkinan digunakan untuk tujuan rekreasi, bukan medis.

Meski demikian, peneliti tidak menutup kemungkinan lain seperti pengobatan sendiri, resep dari dokter luar, atau paparan akibat pekerjaan.

Studi ini dipublikasikan di Journal of Archaeological Science.

Temuan ini membuktikan bahwa tulang manusia dapat menyimpan memori kimia dari gaya hidup seseorang selama berabad-abad.

>>> Wally Funk, Penerbang Perempuan Pionir, Meninggal di Usia 87 Tahun

Para ilmuwan pun bertanya-tanya apa yang akan ditemukan jika tulang dari abad ke-21 dianalisis di masa depan.