The Open menandai akhir dari rangkaian singkat turnamen mayor yang dimulai dengan Masters. Namun, banyak pihak dalam olahraga ini melihat manfaat untuk memperpanjang periode tersebut.

Jon Rahm, juara mayor dua kali, menekankan bahwa lokasi turnamen mungkin lebih penting daripada waktunya.

>>> S&P Pertahankan Rating Indonesia di Level BBB, OJK: Fundamental Ekonomi Tetap Kokoh

"Saya pikir itu akan baik untuk golf," kata Rahm tentang gagasan menjadi tuan rumah turnamen mayor internasional.

"Jika Anda bisa memiliki lebih banyak golf di tempat lain, saya pikir itu akan baik-baik saja," tambahnya.

Rahm menginginkan perluasan jangkauan global olahraga ini, dengan menyarankan Australia, Eropa, dan Asia sebagai calon tuan rumah.

"Akan menarik untuk melihat turnamen mayor terjadi di belahan dunia lain, di benua lain.

Golf adalah olahraga global dan sebesar ini, itu adalah sesuatu yang pasti bisa dieksplorasi," jelasnya.

>>> TUKS Petrokimia Gresik Raih Penghargaan Pelabuhan Terbaik Nasional

Jadwal Padat dan Kesenjangan Panjang

Saat ini, The Open adalah satu-satunya turnamen mayor di luar Amerika Serikat, kontras dengan NFL yang rutin memasuki pasar internasional.

Namun, ada rencana untuk acara di lokasi baru, termasuk Portmarnock di Irlandia.

Rahm mencatat bahwa pertimbangan finansial memainkan peran penting dalam keputusan ini, karena banyak lapangan bagus di Inggris yang terabaikan.

Setelah putaran terakhir di Royal Birkdale, pemain dan penggemar harus menunggu delapan setengah bulan hingga turnamen mayor berikutnya.

Kesenjangan panjang ini adalah pedang bermata dua; di satu sisi membangun antisipasi untuk Masters, namun di sisi lain menimbulkan pertanyaan apakah struktur ini efektif untuk olahraga.

>>> Riset Indonesia Unggul di Kesehatan dan Teknologi, Lemah di Isu Ketimpangan dan Gender

Rangkaian cepat Masters, Kejuaraan PGA AS, AS Terbuka, dan The Open—hanya terpisah empat belas minggu—menciptakan siklus yang terasa terlalu terburu-buru.