Mahmoud Khalil Gugat Pejabat Trump Atas Tindakan Terhadap Aktivis Palestina
Mahmoud Khalil, mantan mahasiswa pascasarjana Universitas Columbia, mengajukan gugatan federal di Manhattan pada Selasa (18/3/2025).
Gugatan tersebut ditujukan kepada pejabat pemerintahan Trump dan kelompok pro-Israel. Khalil menuding adanya konspirasi terkoordinasi untuk menargetkan dan mendeportasinya karena advokasi pro-Palestina.
>>> Adik Lamine Yamal Curi Perhatian di Piala Dunia 2026
Tindakan hukum yang diajukan oleh Center for Constitutional Rights ini mengklaim bahwa otoritas federal bekerja sama dengan organisasi pengawasan online untuk mengidentifikasi target tertentu.
Menurut pengaduan, strategi tersebut menggunakan kerangka kebijakan yang dikembangkan oleh lembaga think tank konservatif bernama "Project Esther". Gugatan menyebut proyek itu sebagai cetak biru tindakan administratif selanjutnya.
Pengaduan merinci bahwa strategi ini berhasil membentuk aliansi operasional antara aktor pemerintah dan entitas swasta eksternal. Tim hukum menyebutnya sebagai kemitraan publik-swasta.
Gugatan juga menuduh bahwa pemerintahan bertujuan untuk menekan ekspresi konstitusional dan menargetkan advokat berdasarkan identitas mereka.
Tindakan ini disebut untuk mencabut hak-hak fundamental individu terpilih dan menyebarkan pesan intimidasi.
Dokumen tersebut menguraikan mekanisme sistematis untuk memproses akademisi dan mahasiswa non-warga negara. Rencana itu mencakup identifikasi dan penargetan mahasiswa serta cendekiawan pro-Palestina yang kemudian akan ditangkap dan dideportasi.
Dalam konferensi pers, Khalil menekankan bahwa gugatannya menyasar upaya sistematis untuk membungkam perbedaan pendapat politik. "Kasus ini jauh lebih dari sekadar apa yang dilakukan kepada saya.
Ini tentang kampanye terkoordinasi untuk menghukum, membungkam, dan mengintimidasi siapa pun yang berani bersuara untuk pembebasan Palestina," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa litigasi bertujuan mengungkap jaringan organisasi yang bekerja sama mengkriminalisasi solidaritas dengan Palestina.
"Ini tentang mengekspos jaringan organisasi, aktor politik, dan institusi yang bekerja sama untuk mengkriminalisasi solidaritas dengan Palestina dan menjadikan contoh bagi mereka yang menolak diam," kata Khalil.
Update Terbaru
Pengisi Suara Chihuahua Taco Bell Masih Makan di Sana, Tapi Peringatkan 'Hati-hati'
Rabu / 15-07-2026, 06:07 WIB
AOC Khawatirkan Tren Looksmaxxing Clavicular Beri Pesan Salah ke Pria Muda
Rabu / 15-07-2026, 06:07 WIB
Spanyol ke Final Piala Dunia 2026, De la Fuente: Pemain Luar Biasa
Rabu / 15-07-2026, 06:07 WIB
Rekor Sempurna Luis de la Fuente: Spanyol 14 Pertandingan Tanpa Kalah
Rabu / 15-07-2026, 06:07 WIB
Manfaat Kopi untuk Kesehatan: Fakta Ilmiah, Kandungan, dan Cara Minum yang Tepat
Rabu / 15-07-2026, 06:07 WIB
Sony Tutup PS3 Store, Emulator RPCS3 Klaim 75% Game PS3 Kini Bisa Dimainkan di PC
Rabu / 15-07-2026, 06:04 WIB
Embark Hukum Pemain Arc Raiders yang Eksploitasi Duplikasi Item
Rabu / 15-07-2026, 06:01 WIB
Trump Akan Berpidato Nasional soal Keamanan Mesin Pemungutan Suara
Rabu / 15-07-2026, 06:00 WIB
Missoula Art Museum Gelar Acara Native Lit Festival
Rabu / 15-07-2026, 06:00 WIB
Spanyol Tiga Kali Beruntun Bikin Prancis Menangis
Rabu / 15-07-2026, 06:00 WIB
Sesumbar Lamine Yamal Terbukti, Spanyol Buat Prancis Tak Berdaya
Rabu / 15-07-2026, 06:00 WIB
Kembang Api Hari Bastille di Eiffel Dimajukan Sehari, Ini Alasannya
Rabu / 15-07-2026, 06:00 WIB
Pelatih Spanyol: Prancis Kalah dari Tim Terbaik di Dunia
Rabu / 15-07-2026, 06:00 WIB
Spanyol Kalahkan Prancis, Lolos ke Final Piala Dunia 2026
Rabu / 15-07-2026, 05:59 WIB







