Trump sendiri relatif santai soal jenggot (meski ia mendorong putranya Donald Jr. untuk mencukurnya), tetapi ia sangat sensitif soal kulit.

Ia pernah menyebut dirinya "pria kulit" dan menolak Nikki Haley sebagai menteri luar negeri karena "noda di pipinya".

Trump juga terkenal pemilih soal pakaian. Ia menginginkan staf perempuan "berpakaian seperti perempuan" dan memiliki preferensi dasi tertentu untuk pria.

Ia bahkan mengirimkan sepatu kepada bawahannya tanpa menanyakan ukuran, dan mereka terlalu takut untuk menolak—Marco Rubio pernah difoto memakai sepatu yang terlalu besar.

Walter Benjamin dalam esainya menulis, "Hasil logis dari fasisme adalah estetisasi kehidupan politik."

Dari topi MAGA merah-putih hingga ruang dansa baru Gedung Putih dan wajah Mar-a-Lago yang seragam, Trump telah mengubah politik menjadi tontonan bermerek.

Wakil yang tidak berkualifikasi seperti Hegseth—lebih betah di studio TV daripada ruang situasi—mengikuti jejaknya.

>>> Dokter FKUI Ciptakan AI NAVI-HF untuk Deteksi Dini Gagal Jantung

Hegseth mungkin terlalu tidak kompeten untuk mengakhiri perang Iran, tetapi tidak ada yang akan menghentikan perang salibnya melawan jenggot.