Dalam mengembangkan algoritma AI, tim peneliti mengumpulkan data dari sekitar 246 pasien yang berasal dari sejumlah rumah sakit rujukan gagal jantung di Indonesia.

Rony mengatakan hasil awal menunjukkan algoritma tersebut memiliki sensitivitas, spesifisitas, dan tingkat akurasi yang baik dalam mengidentifikasi pasien yang masih mengalami kongesti paru.

Meski demikian, ia menegaskan teknologi ini tidak dirancang untuk menggantikan peran dokter.

AI berfungsi sebagai alat bantu agar pengambilan keputusan klinis menjadi lebih akurat, terutama di fasilitas kesehatan yang memiliki keterbatasan alat diagnostik maupun tenaga ahli.

>>> Transjakarta Koridor 'Jalur Langit' Terganggu Pembongkaran JPO, Macet Mengular

"Kami berharap alat ini bisa membantu dokter mengambil keputusan yang lebih tepat dan pada akhirnya menurunkan angka pasien yang harus dirawat berulang kali," pungkasnya.