AI Deteksi Cairan Paru yang Tak Terdengar Stetoskop

Salah satu penyebab pasien kembali dirawat adalah masih adanya penumpukan cairan di paru-paru yang tidak terdeteksi melalui pemeriksaan klinis biasa.

Menurut Rony, kondisi tersebut sering kali bersifat subklinis, yakni belum menimbulkan suara khas yang dapat didengar dokter menggunakan stetoskop.

"Itulah yang menjadi dasar kami melakukan penelitian.

>>> Studi: Hampir Setengah Unggahan Panjang di LinkedIn Dibuat AI

Ternyata salah satu faktor terbesar pasien dirawat ulang adalah masih adanya cairan di paru-paru yang tidak terdeteksi secara klinis," ujarnya.

Melalui analisis suara napas yang direkam menggunakan stetoskop digital, sistem AI mampu mengenali pola suara yang mengindikasikan masih adanya cairan di paru-paru.

Jika hasil analisis menunjukkan pasien masih berisiko mengalami kongesti paru, dokter dapat menunda kepulangan pasien atau menyesuaikan terapi hingga kondisinya benar-benar stabil.

Tak hanya membantu dokter di rumah sakit, teknologi NAVI-HF juga dirancang agar ke depan dapat digunakan langsung oleh pasien di rumah.

Konsepnya cukup sederhana. Pasien hanya perlu menggunakan stetoskop digital portabel yang terhubung ke ponsel.

Rekaman suara napas kemudian dianalisis oleh aplikasi berbasis AI.

Apabila sistem mendeteksi tanda-tanda penumpukan cairan di paru-paru, pasien akan menerima peringatan untuk segera berkonsultasi dengan dokter atau datang ke rumah sakit sebelum kondisinya semakin memburuk.

"Kalau nanti alat ini bisa diminiaturisasi, pasien bisa membawa alatnya sendiri di rumah. Tinggal disambungkan ke gadget, lalu diperiksa sendiri," kata Rony.

Ke depan, sistem tersebut juga akan dikembangkan agar terhubung dengan layanan cloud. Dengan begitu, dokter dapat memantau kondisi pasien dari jarak jauh.

Konsep ini mendukung pengembangan layanan telemedicine dan pemantauan pasien berbasis rumah (home-based monitoring), sehingga pasien tidak perlu bolak-balik ke rumah sakit untuk pemeriksaan rutin.