Jagat media sosial Indonesia kembali dibuat gaduh oleh pernyataan kontroversial selebgram Julia Prastini, atau yang lebih akrab disapa Jule. Wanita kelahiran Jakarta, 25 Juli 2000, ini kembali menjadi pusat perhatian publik usai melontarkan sindiran tajam kepada para warganet yang kerap memberikan komentar negatif di akunnya.
 
Kali ini, Jule tidak memilih untuk diam atau terpuruk di tengah badai hujatan yang menyertai proses perceraianya dengan Na Daehoon. Sebaliknya, ia memilih untuk melawan balik dengan nada tinggi, penuh percaya diri, dan mengadopsi gaya penyampaian blak-blakan yang mengingatkan banyak orang pada gaya khas kreator viral seperti Jennifer Coppen. Sikapnya yang tanpa filter ini sontak memicu gelombang diskusi baru di berbagai platform, mulai dari TikTok, X (Twitter), hingga Threads.
 

Latar Belakang: Tekanan Publik Pasca-Perceraian yang Tak Kunjung Reda

Untuk memahami ledakan emosi Jule dalam siaran langsung terbarunya, kita perlu menelusuri jejak tekanan publik yang ia hadapi selama beberapa bulan terakhir. Pasca-berita perceraianya dengan Na Daehoon, nama Jule terus-menerus menjadi bahan perbincangan, spekulasi, hingga sasaran empuk perundungan digital (cyberbullying).
 
Sebagai figur publik yang masih berusia 26 tahun, sorotan tajam terhadap kehidupan pribadinya tentu membawa beban psikologis yang tidak ringan. Alih-alih menunjukkan kerapuhan, Jule tampaknya telah membangun mekanisme pertahanan diri yang agresif. Ia memilih untuk mengubah narasi dari "korban hujatan" menjadi "figur yang tak tersentuh", sebuah strategi yang umum namun selalu berisiko tinggi di dunia hiburan digital.
 
 

Detik-detik Live Streaming: Sindiran Pedas dan Klaim Sebagai "Ratu FYP"

Puncak ketegangan ini terjadi dalam sesi siaran langsung (Live Streaming) yang digelar Jule pada Senin (13/7/2026). Dengan ekspresi wajah yang tegas dan nada bicara yang khas, Jule secara blak-blakan meminta orang-orang yang tidak menyukainya untuk sekadar "melewati" (skip) kontennya, alih-alih membuang-buang energi untuk menulis komentar penuh kebencian.
 
Yang paling menyita perhatian adalah ketika ia melabeli para pelaku perundungan digital tersebut sebagai "pengangguran". Pernyataan ini bukan sekadar emosi sesaat, melainkan sebuah sindiran yang dirancang untuk membalikkan keadaan, membuat para haters merasa direndahkan secara sosial dan ekonomi.
 
"Kalau nggak suka skip, nggak usah menghujat, jangan buang-buang energi, jangan jadi pengangguran. Yang menghujat gue ini pengangguran, nggak punya pekerjaan," ujar Jule dengan nada ketus yang khas, menirukan gaya teatrikal yang sedang tren di kalangan kreator konten.
 
Tak berhenti di situ, Jule juga membuat klaim mengejutkan terkait algoritma media sosial. Ia menegaskan bahwa popularitasnya adalah "katalis" bagi kreator lain. Menurutnya, banyak akun TikTok yang sengaja memanfaatkan namanya demi mendongkrak engagement dan masuk ke laman rekomendasi atau For You Page (FYP).
 
"Biarin, biarin aja. Iya orang bikin video TikTok kalau nggak ada gue nggak FYP, harus bawa-bawa nama gue baru FYP. Nggak apa-apa lah songong," tambahnya dengan senyum sinis yang langsung menjadi potongan klip viral di berbagai platform.