Berdasarkan keterbukaan informasi BEI pada 2 Juli 2026, total kewajiban kredit PMMP mencapai sekitar Rp2,87 triliun.

Rinciannya, utang kepada PT Bank Permata Tbk sebesar US$53,12 juta (Rp953,4 miliar) plus fasilitas Rp5,49 miliar, PT Bank Central Asia Tbk sebesar US$40,29 juta (Rp723 miliar), Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia sebesar US$30,71 juta (Rp551,2 miliar), dan PT Bank SMBC Indonesia Tbk sebesar US$22,8 juta (Rp409,1 miliar).

Selain itu, PMMP memiliki pinjaman kepada PT Bank Maspion Indonesia Tbk sebesar US$7,21 juta (Rp129,4 miliar) dan PT Bank Resona Perdania sebesar US$5,99 juta (Rp107,5 miliar).

Perseroan mengakui mengalami kendala modal kerja dan membutuhkan sekitar US$15 juta (Rp269,1 miliar) untuk operasional.

Akibat keterbatasan tersebut, PMMP hanya mengoperasikan satu pabrik di Situbondo.

Untuk memenuhi permintaan ekspor, perusahaan membeli produk jadi dari pihak lain dengan skema pembayaran setelah hasil ekspor diterima.

Penurunan kapasitas produksi juga berdampak pada efisiensi tenaga kerja. Sejak 2024 hingga kini, PMMP telah melakukan PHK terhadap 37 karyawan staf dan 79 pekerja harian.

Sebanyak 82 staf tercatat mengundurkan diri.

>>> Rekor Mbappe vs Unai Simon Jelang Semifinal Piala Dunia 2026

PT Harapan Bangsa Kita, perusahaan milik Kaesang Pangarep, tercatat memiliki 188,24 juta saham atau sekitar 7,27% kepemilikan di PMMP.