Saluran kabel tvN juga ikut dalam tren ini. Sejak bulan lalu, tvN menayangkan Musim 1 dan 2 dari serial Apple TV+ berjudul "Pachinko" (2022, 2024).

Awalnya, "The Second Signal" dijadwalkan tayang sebagai spesial ulang tahun ke-20 tvN pada musim panas ini, tetapi gagal mendapatkan slot siaran setelah kontroversi melibatkan aktor utama Cho Jin-woong.

>>> Film Komedi 'Okay! Madam' Kembali dengan Sekuel Kapal Pesiar Mewah

Sebagai gantinya, serial global sukses "Pachinko" dipilih untuk mengisi slot waktu yang kosong.

"Pachinko" berkisah tentang keluarga imigran Korea dari masa penjajahan Jepang hingga tahun 1980-an.

Serial ini meraih pujian global berkat visual sinematik dan penampilan menonjol dari Youn Yuh-jung serta Kim Min-ha yang memerankan tokoh utama Sunja di dua fase kehidupannya.

Setelah "Pachinko" selesai, slot larut malam akan diisi oleh "Dear X", drama original yang sebelumnya tayang di Tving, platform streaming afiliasi CJ ENM.

Pengamat industri menilai semakin banyaknya drama streaming yang tayang di televisi mencerminkan hubungan saling menguntungkan antara stasiun televisi dan platform streaming.

Bagi stasiun televisi yang menghadapi pendapatan iklan menyusut dan biaya produksi drama yang meningkat, mengakuisisi konten berkualitas yang sudah teruji menjadi alternatif yang lebih hemat biaya dibandingkan memproduksi serial baru.

Penghematan tersebut dapat dialihkan untuk mengembangkan program original unggulan.

Bagi platform streaming, siaran televisi memperpanjang umur kekayaan intelektual yang sudah ada sekaligus meningkatkan kesadaran merek di kalangan pemirsa yang bukan pelanggan streaming, termasuk audiens yang lebih tua.

Beberapa kritikus menyatakan kekhawatiran bahwa stasiun televisi pada akhirnya bisa menjadi sekadar saluran siaran ulang konten streaming.

Namun, banyak pakar industri meyakini manfaat saat ini lebih besar daripada risikonya.

"Pertukaran konten — dengan produksi streaming ditayangkan di televisi dan drama televisi meluas ke platform streaming global — dapat memperkuat daya saing kedua belah pihak," kata kritikus budaya pop Kim Heon-sik.

>>> Penyelidikan Online Seret Selebriti Korea ke Kontroversi Komunitas Sayap Kanan

"Selama stasiun televisi secara hati-hati memilih konten streaming berkualitas yang melayani kepentingan publik dan terus memproduksi drama original mereka sendiri tanpa menguranginya secara drastis, ini bisa menjadi model bisnis yang bermakna dan berkelanjutan."