"Saya pikir AI akan menjadi alat yang kuat di masa depan. Yang saya coba masukkan ke dalam perdebatan adalah gagasan tentang tanggung jawab dan tanggung jawab pemberi kerja.

Satu hal yang tidak boleh kita lakukan adalah membiarkan manajemen, pemberi kerja, dan produser menggunakan AI untuk menghindari tanggung jawab atas tindakan mereka," kata Nolan.

>>> Pemerintah dan Takeda Jalin Kemitraan Strategis Ekosistem Plasma Senilai USD30 Juta

Ia menambahkan bahwa dilema etika yang belum terselesaikan sering menjadi inspirasi kreatif untuk proyek sinematiknya.

Kritik Casting dan Tanggapan Nolan

Selain perdebatan teknologi, produksi The Odyssey juga menghadapi kritik daring terkait pemilihan aktris Lupita Nyong'o sebagai Helen of Troy.

Nyong'o mengabaikan keluhan tersebut dan menegaskan bahwa produksi mencerminkan keragaman global.

"Pemeran kami mewakili dunia. Saya tidak menghabiskan waktu untuk memikirkan pembelaan.

Kritik akan tetap ada apakah saya menanggapinya atau tidak," ujar Nyong'o.

Nolan membela rekannya dalam wawancara dengan The Telegraph, dengan menyatakan bahwa kontroversi sebelum rilis adalah hal biasa dalam pembuatan film berskala besar.

"Itu sudah menjadi konsekuensi," kata Nolan.

Ia menjelaskan bahwa perdebatan publik sebelum film tayang tidak memiliki substansi karena penonton belum melihat hasil akhirnya.

"Percakapan yang terjadi sebelum orang melihat film selalu tidak relevan, karena tidak ada yang tahu seperti apa film itu sebenarnya," ujarnya.

Nolan mengingat pengalamannya selama satu dekade menangani waralaba Batman.

"Ingat, saya menghabiskan 10 tahun hidup saya berurusan dengan Batman," katanya.

Ia menyimpulkan bahwa pembuat film harus fokus menyajikan interpretasi pribadi yang kuat terhadap materi sumber, bukan mengkhawatirkan prasangka eksternal.

>>> Sinarmas AM Luncurkan DPLK Digital, Targetkan Dana Kelolaan Rp150 Miliar

"Yang harus Anda lakukan adalah menghormati teks asli dengan menafsirkannya dengan cara terkuat yang Anda bisa secara pribadi," pungkas Nolan.