Sutradara Christopher Nolan membela film terbarunya, The Odyssey, dari kritik terkait penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan pemilihan pemeran.

Pernyataan itu disampaikan Nolan dalam wawancara promosi di Paris menjelang perilisan film adaptasi epik Yunani kuno tersebut pekan ini.

>>> IHSG 11 Juli 2026: Recovery Rapuh, Volume Rendah, Arah Selanjutnya?

Film beranggaran USD 250 juta itu dibintangi sederet aktor terkenal dan syuting di berbagai lokasi Mediterania.

Sikap Nolan terhadap AI

Nolan menyoroti perbedaan mencolok antara antusiasme korporat dan penolakan publik terhadap teknologi AI.

"Yang menarik dari AI adalah saya belum pernah melihat teknologi yang begitu sukses diadopsi oleh Wall Street, investor, dan perusahaan teknologi, namun ditolak habis-habisan oleh publik," ujar Nolan.

Ia mencatat resistensi terhadap AI sangat menonjol di kalangan anak muda yang menyebut konten otomatis sebagai 'AI slop'.

Nolan mengakui bahwa pembelajaran mesin dapat menjadi perangkat fungsional bagi kreator, tetapi menolak gagasan bahwa AI akan sepenuhnya menggantikan tenaga profesional.

"Tapi saya pikir ide bahwa AI menggantikan manusia dan kreativitas manusia secara keseluruhan, itu tidak masuk akal," tegasnya.

Sebelumnya, Nolan membandingkan peringatan teknologi modern dengan kecemasan nuklir saat mempromosikan film Oppenheimer.

Ia melihat kesamaan antara advokasi fisikawan tersebut dengan peringatan yang disuarakan oleh spesialis teknologi modern.

Peringatan itu juga disuarakan oleh ilmuwan komputer terkemuka, termasuk mantan peneliti Google Dr. Geoffrey Hinton, yang dijuluki 'godfather of AI'.

Hinton sebelumnya mengundurkan diri dari perusahaannya untuk berbicara terbuka tentang risiko serius dari model AI yang tidak diatur.

Nolan terus menekankan perlunya akuntabilitas perusahaan untuk mencegah organisasi menggunakan otomatisasi guna menghindari tanggung jawab.