Pertanyaan tentang penyembuhan luka terdalam sering kali tidak kita sadari.

Rasa sakit masa kecil dan sesudahnya terkubur karena kita tidak punya waktu, kepercayaan diri, atau keinginan untuk menghadapinya.

>>> Spyro: A Realm Beyond Terkendala Waktu dan Anggaran untuk Ide-Ide Keren

Luka itu menggerogoti keyakinan, integritas, dan identitas kita. Akibatnya, kita sulit terhubung dengan orang terdekat maupun diri sendiri.

Namun, olahraga berbeda. Di dunia olahraga, luka justru diumbar di depan publik, menjadi bahan perdebatan, spekulasi, bahkan lelucon.

Jimmy White misalnya, tahu betul bahwa ia tak pernah menjadi juara dunia snooker.

Chris Waddle juga masih ingat saat tendangan penaltinya melambung jauh di atas mistar saat Inggris kalah dari Jerman di semifinal Piala Dunia 1990.

Ada sisi positif dari pengungkapan luka ini, setidaknya selama karier masih berjalan. Kegagalan di masa lalu memberi kesempatan untuk memperbaikinya dengan kemuliaan yang berlipat.

Berbeda dengan atlet, kita jarang diingatkan tentang momen memalukan masa lalu.

>>> BanG Dream! YUME∞MITA: Ketika Band Virtual Hadapi Tantangan Internet

Misalnya saat celana olahraga kita ikut turun saat berganti pakaian di pelajaran olahraga pertama, atau memanggil guru dengan sebutan 'Ibu'.

Atau saat seorang guru menginjak harmonika kita hingga hancur di depan kelas, atau orang tua memberi tahu teman-teman bahwa kita pamer karena kelelahan.

Ada juga kenangan seperti menghisap filter rokok saat merayu seorang gadis, atau teman-teman berdandan dengan pakaian orang tua kita.

Tak ketinggalan, surat orang tua kepada teman-teman yang meminta mereka berhenti mengganggu belajar A-level kita.

Atau saat kita ditegaskan oleh orang yang seharusnya melindungi bahwa kita cacat dan memalukan dalam berbagai cara.

>>> Darkroom Tambahkan Crusher Joe, Simoun, dan Anime Lain ke Layanan Streaming

Semua kenangan itu melekat. Kita bisa memproses dan menerimanya, tetapi tidak pernah bisa menghapus atau melupakannya sepenuhnya.